1.6 Tentara Bergajah Abrahah

Tentara Bergajah Abrahah

Walaupun Najasyi telah memaafkannya, Abrahah masih belum puas. Dia ingin menebus kesalahannya terhadap Najasyi. Kemudian dia membangun sebuah gereja terbesar di Yaman. Abrahah menamakannya al-Qulais. Setelah itu. itu dia mengirim berita kepada Najasyi bahwa dia telah membangun sebuah gereja yang terbesar di Yaman dan dia akan memerintahkan semua kabilah Arab supaya datang berhaji ke Yaman. Selanjutnya Abrahah mengirim utusannya kepada seluruh kabilah Arab supaya datang berhaji di al-Qulais.

Apabila berita ini sampai kepada Ahlun Nasi, satu kabilah Arab yang terkenal karena sangat membesarkan Ka’bah, salah seorang dari mereka telah datang ke al-Qulais lalu membuang air besar di situ dan kotorannya di sapu ke seluruh dinding al-Qulais.

Ketika Abrahah mengetahui bahwa orang yang membuat angkara ini adalah dari Ahlun Nasi’, Abrahah sangat marah marah dan berazam membalas dendam. Tanpa membuang waktu, dia mempersiapkan tentaranya termasuk Tentara Gajah yang sangat disegani. Dia bertekad meruntuhkan Ka’bah. Dia juga membawa gajahnya yang paling besar yang diberi nama Mahmud. Dalam perjalanan Abrahah menuju ke Ka’bah, ada beberapa kabilah Arab datang menyerang tentera Abrahah untuk menyekatnya dari meruntuhkan Ka’bah. Namun semuanya dikalahkan dengan mudah oleh tentera Abrahah yang gagah dan lengkap dengan senjata itu.

tahun kelahiran Nabi Muhammad

Pasukan Gajah

Sesampainya Abrahah di Taif, penduduk Taif tidak berani menyekat Abrahah. Mereka telah mengkhianati Ka’bah. Mereka bukan saja memberi laluan kepada Abrahah malah menghantar wakil mereka untuk menunjukkan jalan ke Ka’bah kepada Abrahah. Lelaki Taif ini dikenali sebagai Zu Rughal. Malangnya sebelum sampai ke Ka’bah, Zu Rughal meninggal dunia lalu dia dikuburkan di tempat kematiannya. Setelah itu kuburnya menjadi tempat orang Arab melaksanakan hukuman rajam sebagai penghinaan kepada orang yang khianat kepada kaumnya. Akhirnya masyarakat memberi gelar pengkhianat sebagai Zu Rughal.

Apabila tentara Abrahah sampai diperbatasan Mekah, mereka merampas binatang ternak penduduk Mekah. Mereka turut merampas dua ratus ekor unta milik Abdul Mutalib. Untuk mengambil untanya, Abdul Mutalib yang merupakan Ketua Mekah, datang menghadap Abrahah. Ketika menyambut kedatangan Abdul Mutalib, Abrahah turun dari kursi khususnya untuk duduk di bawah bersama Abdul Mutalib.

Keterampilan Abdul Mutalib sudah menjelaskan kehebatan dan ketokohannya. Abrahah menghormatinya. Abdul Mutalib meminta Abrahah mengembalikan binatang ternaknya dan binatang ternak penduduk Mekah yang telah dirampas oleh tentara Abrahah. Abrahah terkejut mendengar permintaan itu karena Abrahah menyangka Abdul Mutalib akan membujuknya supaya jangan mengganggu Ka’bah. Namun Abdul Mutalib mempunyai alasan sendiri. Abdul Mutalib menegaskan, “Wahai Abrahah, aku ini tuan dari unta-unta ini sebab itulah aku minta dikembalikan unta-unta ini. Sementara Ka’bah itu juga ada Tuan yang menjaganya. Sekiranya Ka’bah itu Rumah Allah, pasti Allah yang menjaganya.” Demikianlah keyakinan Abdul Mutalib terhadap Tuhannya.

Mendengarkan penjelasan Abdul Mutalib itu, Abrahah mengembalikan semua binatang ternak yang dirampas dan berjanji tidak akan mengganggu penduduk Mekah. Misinya adalah ingin meruntuhkan Ka’bah. Hasil pertemuan dengan Abrahah, Abdul Mutalib berhasil membawa pulang binatang ternak penduduk Mekah. Dia mengajak seluruh penduduk Mekah berlindung ke bukit yang dekat dengan Kabah. Dari atas bukit itulah penduduk Mekah dengan hati yang iba dan cemas hanya mampu memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Abrahah terhadap Ka’bah.

Pada hari yang telah takdirkan oleh Allah, Abrahah menggerakkan Tentara Gajahnya menuju ke arah Ka’bah untuk meruntuhkan Kabah. Allah telah memperlihatkan kebesaran-Nya. Gajah tidak mau bergerak ke arah Ka’bah walaupun dipukul beberapa kali. Bila diarahkan ke arah lain, gajah segera bergerak tetapi bila diarahkan kembali ke arah Ka’bah, gajah tidak mahu bergerak. Ketika itu juga kelihatan awan hitam di langit, awan itu semakin dekat dan rupa-rupanya adalah sekumpulan burung. Burung-burung itu rupanya adalah tentara Tuhan yang bernama Ababil. Setiap Ababil membawa tiga biji batu kecil. Apabila tentara Abrahah bergerak ke arah Ka’bah, burung-burung ini melepaskan batu-batu kecil ini ke atas tentara Abrahah. Allah memperlihatkan lagi kebesaran-Nya. Begitu batu-batu kecil ini mengenai tentara Abrahah, daging mereka mula berguguran dan menjadi cair. Banyak tentara Abrahah yang mati. Melihatkan hal itu Abrahah berusaha untuk lari menyelamatkan dirinya tapi malang batu itu mengenai badannya. Akhirnya Abrahah dan semua tentaranya terbunuh. Allah telah menceritakan pada kita umat akhir zaman peristiwa ini dalam al-Quran:

“Tidakkah engkau mengetahui bagaimana Tuhanmu telah melakukan kepada angkatan Tentara (yang dipimpin oleh pembawa) Gajah, (yang hendak meruntuhkan Kabah)? Bukankah Tuhanmu telah menjadikan rancangan jahat mereka dalam keadaan yang rugi dan memusnahkan mereka? Dan Ia telah mengirim kepada mereka (rombongan) burung berpasukan. Yang melontar mereka dengan batu-batu dari sejenis tanah yang dibakar. Lalu Ia menjadikan mereka hancur berkecai seperti daun-daun kayu yang dimakan ulat.” (Surah al-Fil: 1-5)

Maha Besar Tuhan, Maha Besar Tuhan. Peristiwa ini telah menambah penghormatan masyarakat Arab kepada Kabah terutama bangsa Quraisy dan penduduk Mekah. Mereka telah menyaksikan peristiwa itu dengan mata kepala mereka sendiri. Maka tahun itu dinamakan Tahun Gajah. Nabi Muhammad saw dilahirkan pada tahun ini. Yaitu pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah.
 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi