2.2 Penemuan Kembali Sumur Zam-Zam

Qusay bin Kilab mempunyai anak bernama Abdul Manaf. Sedangkan Abdul Manaf mempunyai anak yang bernama Mutalib dan Hasyim. Kemudian Hasyim mempunyai anak bernama Syaibah. Syaibah ini adalah anak Hasyim dari istri yang bernama Ummu Hasyim. Ummu Hasyim merupakan seorang wanita bangsawan di kalangan kaumnya yang tinggal di luar Mekah.

Hasyim tidak panjang umur. Beliau meninggal ketika Syaibah masih kecil. Oleh Karena itu, Syaibah dibesarkan oleh oleh ibunya di kabilah ibunya yang berada di luar Mekah. Ketika Syaibah menginjak remaja, pamannya yang bernama Mutalib ingin mengajak Syaibah ke Mekah. Awalnya ibunya tidak setuju, tetapi karena Mutalib terus mendesak dengan alasan bahwa Syaibah merupakan keturunan Qusay bin Kilab. Keturunan Qusay bin Kilab merupakan calon pemimpin Mekah sehingga tidak sepatutnya tinggal di luar Mekah. Akhirnya, ibunya meminta Syaibah menentukan pilihan, apakah ingin tinggal bersama ibunya di kabilahnya atau ikut pamannya tinggal di Mekah. Syaibah pun memilih untuk ikut pamannya dan tinggal bersamanya tinggal di Mekah.

Dalam perjalanan menuju Mekah, Syaibah naik di atas tunggangan Mutalib dan duduk di belakang Mutalib. Ketika memasuki kota Mekah, banyak orang mengira Mutalib membawa seorang budak remaja di belakangnya. Masyarakat yang terbiasa dengan jual beli hamba sahaya pada waktu itu menyangka Mutalib membeli hamba baru. Dari situlah Syaibah ini mendapat gelar Abdul Mutalib yang bermakna “hamba Mutalib”. Nama gelar inilah yang kemudian masyur . Dialah Abdul Mutalib kakek dari Nabi Muhamad saw, yang mana nama aslinya adalah Syaibah.

Abdul Mutalib kemudian mempunyai seorang anak bernama Harist. Setelah Harist menginjak dewasa, Abdul Mutalib mendapat mimpi yang aneh.

Penemuan Kembali Sumur Zam-Zam

Ibnu Ishaq telah meriwayatkan dari Sayidina Ali, bahwa pada suatu malam, Abdul Mutalib telah didatangi seseorang yang memanggil namanya dan memerintahkannya untuk menggali at Thibah. Abdul Mutalib bertanya, apakah at Thibah itu? Belum sempat memberi jawaban, suara tersebut sudah menghilang. Pada malam kedua, Abdul Mutalib bermimpi lagi. Suara itu memerintahkan untuk menggali ar Barrah. Apakah al Barrah itu? Abdul MUtalib ingin mendapatkan penjelasan tetapi suara itu sudah hilang. Setelah mimpi kedua, Abdul Mutalib merasa ada sesuatu yang pentig yang hendak disampaikan kepadanya karena beliau tidak pernah mengalami mimpi seperti seperti itu sebelumnya. Malam ketiga beliau bermimpi lagi, kali ini suara itu memerintahkannya untuk menggali Al Madhmunah. Abdul Mutalib bertanya, apa itu al madhmunah? Tetapi suara itu hilang lagi. Semakin kuat keyakinan dan keinginan Abdul Mutalib untuk memahami suara itu. Beliau yakin ada sesuatu yang besar yang hendak disampaikan kepadanya melalui mimpi pada tiga malam berturut-turut. PAda malam ke empat, suara itu dating lagi sambal berkata, “galilah zam-zam.” Abdul Mutalib terus bertanya, “dimanakah zam-zam itu?” kali ini suara itu menjawab,

“Dia tidak akan kering selama-lamanya dan tidak akan berkurang, dia akan memberi minum kepada para jamaah haji tetamu Allah Yang Maha Agung, dia berada diantara perut dan darah, di tempat patukan gagak hitam yang ada bulu putih dan di tempat rumah semut.”

Hati Abdul Mutalib telah yakin bahwa beliau diperintahkan untuk menggali Zam-zam. Zam-zam memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Mekah apalagi pada Abdul Mutalib yang mewarisi hak Siqayah (hak memberi minum kepada Jemaah Haji). Mereka tidak tau dimana terkuburnya zam-zam itu. Tidak masuk akal pula untuk menggali di sekeliling Kabah untuk memcari zam-zam itu.

Dengan berpandukan pada tanda-tanda yang didapat melalui mimpi tersebut, keesokan harinya Abdul MUtalib mengajak anaknya, yang bernama Harist, untuk membantunya menggali Zam-zam. Harist bertugas menjaga Abdul Mutalib sekiranya pemuka Qurays yang lain mencoba menghalanginya.

Abdul Mutalib mencoba mencari tanda-tanda seperti yang di ilhamkan kepadanya. Tiba-tiba ada sekumpulan orang Arab datang dan menyembelih lembu di dekat berhala Isaf. Darah pun bercucuran ke tanah. LEmbu yang sudah disembelih itu tiba-tiba berdiri lagi dan jatuh di tempat yang lain. Menghadapi keadaan yang tidak diperkirakan sebelumnya tersebut, mereka terpaksa menyempurnakan menyembelih lembu tersebut di tempat tempat jatuhnya lembu. Lembu tersebut dikuliti dan dikeluarkan isi perutnya. Demikianlah berlakunya tanda pertama petunjuk lokasi sumur zam-zam.

Kawasan tersebut masih cukup luas. Kemudian beliau mencari tanda lain. Akhirnya beliau menemukan kawasan semut. Namun, kawasan tersebut juga masih cukup luas. Dalam kebingungan, tiba-tiba datanglah seekor gagak hitam yang ada bulu putihnya. Pahamlah Abdul Mutalib bahwa itulah al Ghurabul A’som. Gagak itu mematuk-matuk di tanah yang di dekat kawasan semut. Saat itulah beliau paham bahwa di situlah kawsan yang diisyaratkan dalam mimpinya.

Demikianlah Allah telah membuka rahasia Zam-zam yang telah hilang selama 500 tahun kepada Abdul Mutalib. Allah yang memberitahu isyarat-isyarat tersebut dan Allah juga yang mempersiapkannya.

Ketika Abdul Mutalib mulai menggali, gemparlah masyarakat Qurays. “Apa yang kamu gali, wahai abdul Mutalib? Kamu tidak boleh menggali di sini. Bukankah ini tepi Kabah. Ketika itu Abdul Mutalib membiarkan Harist yang menghadapi masyarakat Qurays. Beliau sendiri terus menggali dan tidak menghiraukan apa yang terjadi di sekitarnya.

Saat beliau merasakan ada sesuatu yang keras yag seolah-oleh merupakan penutup sumur Zam-zam, beliau tidak dapat mengawal perasaanya lantas beliau menjerit. Allahu Akbar, Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! Mendengar takbir tersebut, sadarlah Bani Qurays bahwa Abdul Mutalib sudah menemukan apa yang beliau cari. Mereka bertanya: Apa yang kamu gali, wahai Abdul Mutalib? Kali ini barulah Abdul Mutalib menjawab, “sesunguhnya aku sedang menggali zam-zam”. Abdul Mutalib terus menggali sehingga zam-zam benar-benar terpancar kembali.

kisah nabi muhammad penemuan sumur zam-zam

Air Zam-zam yang keluar dari rekahan batu

Maka terkejutlah orang Qurays, mereka sangat gembira dengan peristiwa ajaib tersebut. Kemudian muncullah sifat tamak yang menguasai mereka. Mereka merasa berhak atas Zam-zam juga. Tanpa segan-segan mereka meminta Abdul Mutalib untuk menjadikan Zam-zam sebagai hak bersama. Memiliki sumur zam-zam merupakan satu kemuliaan besar. Namun, Abdul Mutalib tidak setuju. Beliau yang pertama kali menemukannya bahkan pada awalnya masyarakat Qurays lain hendak menghalanginya. Dan ketika sumur zam-zam sudah ditemukan kembali, dengan mudahnya mereka menginginkan hak dalam mengurus sumur zam-zam ini. Walaupun Abdul MUtalib tidak setuju, mereka tetap bersikeras dengan kemauan mereka. Perselisihan ini hampir mencetuskan perang di antara para pemuka Qurays dan Bani Abdul Mutalib. Akhirnya mereka setuju untuk mencari Hakim yang akan memutuskan perselisihan mereka. Mereka pun melantik Kahinah, seorang pendeta wanita yang di hormati dalam masyarakat arab ketika itu. PAda waktu itu, pendeta yang berasal dari Bani Saad ini sedang berada di Yathrib (Medinah). Ketika mereka bergerak sampai ke Yathrib, Kahinah rupanya sudah bermusafir ke Khaybar. Lantas mereka pun menyusul ke Khaybar.

 

 

Di tengah perjalanan menyusul Kahinah, mereka melewati padang pasir yagn seluas mata memandang. Di tengah padang pasir tersebut, rombongan Abdul Mutalib kehabisan perbekalan air. Mereka mencoba meminta air kepada pihak Qurays yang lain. Tapi malang, bekal air pihak Qurays pun tinggal sedikit. Untuk keperluan mereka sendiri pun tidak mencukupi.

Hal tersebut tidak membuat orang-orang Abdul Mutalib putus asa. Mereka terus mencari sumber air tapi tetap tidak menemukan sebarang petunjuk adanya sumber air. Setelah keletihan, mereka bertanya kepada Abdul Mutalib apa yang perlu dilakukan.

Kata abdul Mutalib: “sekarang setiap orang menggali kubur sendiri. Daripada kita semua mati tidak ada yang mengubur, biarlah satu orang saja yang tidak dikuburkan yaitu yang terakhir mati.”

Setelah kubur selesai digali, mereka hanya mampu duduk menunggu saat-saat kematian. Namun pikiran Abdul Mutalib masih memikirkan upaya terakhir bagaimana mencari sumber air. Abdul Mutalib mengerahkan orang-orangnya untuk mencari lagi. Ketika mereka sedang mecari-cari sesuatu yang tidak pasti, unta Abdul Mutalib bangun lalu menghentakkan kakinya ke tanah. Maka dengan kuasa Allah, terpancarlah air dari situ. Akhirnya mereka dapat minum sepuasnya bahkan masih ada lebihan air.

Abdul Mutalib memanggil Bani Qurays yang lain untuk mengambil air dari situ. Melihat kejadian yang ajaib itu, pihak Qurays akur kepada Abdul Mutalib. Mereka berkata: “wahai Abdul Muthalib sesungguhnya yg memberi kamu minum ditengah padang pasir, Dialah yg telah mengaruniakan zam-zam pada kamu. Kami akur zam-zam adalah kepunyaan kamu”.

Peristiwa tesebut telah meyakinkan mereka bahwa itu adalah tanda dari Allah untuk memberitahu mereka bahwa Zam-zam adalah milik Abdul Mutalib. Sejak saat itu, keistimewaan Siqayah (memberi minum kepada Jemaah haji) dan Zam-zam menjadi milik Abdul Mutalib dan keturunannya.

kisah nabi muhammad

Timba sumur zam-zam di museum

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi