2.3 Nazar Abdul Mutalib

Nazar Abdul Mutalib

Ketika peristiwa menggali kembali sumur zam-zam, Abdul Mutalib hanya mempunyai seorang anak laki-laki yaitu Harist. Harist inilah yang menjaga Abdul Mutalib dari gangguan orang Qurays yang menghalanginya menggali kembali sumur zam-zam. Beliau merasa dirinya lemah tidak seperti orang lain yang memiliki banyak anak lelaki. Apalagi ada yang berani berkata: “Wahai Abdul Mutalib, apakah kamu berani menyanggah kami sedangkan kamu sendiri tidak mempunyai anak lelaki yang dapat menjaga kamu”.

Setelah pihak Qurays mengakui bahwa beliau menguasai sumur zam-zam, maka beliau pun bernazar. Jika Allah memberikan karunia berupa 10 orang anak lelaki kepadanya maka beliau akan korbankan salah seorang dari mereka. Allah mengabulkan doa Abdul Mutalib.

Abdul Mutalib mendapat sepuluh orang anak lelaki. Anak yang ke sepuluh adalah Abdullah, ayahanda Nabi Muhammad saw. Ketika Abdullah sudah dewasa, Abdullah menjadi anak yang paling disayanginya. Ketika itu, apabila Abdul Mutalib bertawaf di Kabah, beliau akan diiringin oleh ke sepuluh anak-nya yang gagah-gagah. Beliau bersyukur kepada Allah atas karunia itu. Sampailah pada waktunya untuk menunaikan nazarnya dulu.

Untuk melaksanakan nazar itu, beliau telah merujuk kepada pendeta Kabah yang memintanya membuat undian siapakah anaknya yang akan dikorbankan. Dalam hati, Abdul Mutalib berdoa, semoga undian tidak jatuh kepada Abdullah. Namun, undian jatuh kepada Abdullah. Sungguh sedih hatinya. Walaupun hatinya berat dan iba, Abdul Mutalib nekat melaksanakan nazarnya karena orang seperti dia tiak mungkin mungkir dari menunaikan nazar.

Akhirnya beliau membawa Abdullah ke Kabah untuk disembelih. Apabila kaum Qurays melihat Abdul Mutalib ingin menyembelih anaknya, mereka segera menghalanginya. Namun, Abdul Mutalib tetap bersikeras untuk menunaikan nazarnya sehingga terjadi keributan di situ. Dalam keadaan Tarik menarik antara Abdul Mutalib dan kaum Qurays, terlukalah kepala Abdullah. Oleh karena itu, Abdullah dikenal dengan gelar Al Asyaj yang bermakna “Yang Berparut di kepala”.

Kaum Qurays terus membujuk Abdul Mutalib. Mereka berkata: “ wahai Abdul Mutalib, bukankah engkau ketua Mekah? Kalau engkau sembelih anakmu, nanti pengorbanan ini akanmenjadi Sunnah kepada seluruh Arab. Siapa saja yang mendapat sepuluh anak lelaki wajib mengorbankan salah satunya. Bukankah perbuatan ini sesuatu yang berat dan menghilangkan kebahagiaan. Kalaulah setiap ketua keluarga terpaksa menyembelih anak sendiri, hilanglah kebahagiaan dalam keluarga. Tolong jangan memulai wahai Abdul Mutalib, nanti akan menjadi Sunnah” Tetapi apa daya Abdul Mutalib sudah bernazar dan dia mesti menunaikan nazarnya tersebut.

Diganti dengan Unta

kisah ayah nabi muhammad saw diundi dengan unta

Diundi dengan 10 unta

Menimbang pendapat kaum Qurays, Abdul Mutalib akhirnya setuju untuk meminta pendapat pendeta Bani Saad. Pendeta ini bertanya berapa nilai Diat (ganti rugi kepada orang yang dibunuh) seorang lelaki meredeka dalam masyarakat Qurays. Mereka berkata “ sepuluh ekor unta betina”. Pendeta itu berkata, “kalau begitu buatlah undian antara Abdullah dan 10 ekor. Jika undian masih jatuh pada Abdullah, tambahkan lagi 10 ekor unta sehingga undian jatuh pada unta”. Undian baru jatuh kepada unta setelah undian ke 10 yang berarti jumlah unta yang harus dikorbankan sejumlah 100 ekor. Untuk memastikannya lagi, Abdul Mutalib minta diulang lagi undian tersebut hingga 3 kali. Maka Abdul Mutalib pun menyembelih 100 ekor unta sebagai ganti anak kesayangannya. Sebab itulah Baginda Nabi Muhammad saw menyebutkan:

sejarah kisah nabi muhammad saw“aku ini adalah anak dari dua orang yang akan disembelih”

Dua orang yang dimaksud analah Nabi Ismail dan yang kedua adalah Abdullah. Karena pada dua orang ini ada janji Allah akan lahir penghulu para Nabi dan Rasul, maka Allah menyelamatkan keduanya dari disembelih.

Demikianlah, apabila suatu perkara atau seorang manusia hendak dinaikkan derajatnya oleh Allah, walau apapun yang menimpanya, pasti Allah akan selamatkan pada akhirnya. Demikianlah sunnatullah, sedangkan sunnatullah itu tidak akan berubah.

Nasab Nabi Muhammad saw adalah nasab yang paling mulia. Baginda Nabi Muhammad berasal dari kabilah yang paling mulia dalam bangsa Arab, bangsa yang Allah pilih untuk menegakkan Islam. Allah juga telah memberikan keistimewaan yang cukup besar pada Bahasa Arab menjadi Bahasa Al Quran. Imam Tirmizi meriwayatkan:

“Rasulullah saw naik ke atas mimbar dan bertanya, ‘siapakah saya?’ Para Sahabat menjawab, ‘Kamu Rasulullah saw, keatas kamu kesejahteraan.’ Saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Mutalib. Sesungguhnya Allah menjadikan makhlukNYA dan menjadikan mereka dua kelompok dan Allah menjadikan saya dari kelompok yang terbaik. Kemudian Allah menjadikan mereka berbagai kabilah dan Allah melahirkan saya dari kabilah yang paling baik. Kemudian Allah menjadikan mereka beberapa rumah dan Allah menjadikan saya dari rumah yang paling baik dan manusia yang paling baik.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi