3.3 Peristiwa Hajar Aswad

Banjir besar telah melanda Mekah sehingga Kabah hampir runtuh. Kaum Quraisy telah sepakat untuk membangun kembali Ka’bah. Setiap orang mengeluarkan dana untuk itu. Demi menjaga kesucian Kabah, Allah telah memimpin hati mereka sehingga uang yang mereka sediakan untuk membangun kembali Ka’bah hanya dari uang yang bersih saja. Bukan uang hasil penipuan, riba dan pelacuran. Setelah uang terkumpul, mereka menghadapi masalah untuk mencari orang yang mampu membangun bangunan dari batu-bata. Orang Mekah tidak pandai membuat bangunan dari batu. Oleh karena itulah rumah mereka dibangun dari tanah. Allah telah mendatangkan orang yang dapat membantu mereka dalam hal ini.

Namun, selepas itu mereka menghadapi satu masalah besar yaitu bagaimana hendak meruntuhkan bangunan yang hampir roboh itu untuk dibangun lagi dengan bangunan baru.

Tiada seorang pun di kalangan pembesar Quraisy yang berani meruntuhkannya. Mereka telah menyaksikan balasan Allah terhadap Tentera Bergajah Abrahah yang coba meruntuhkan Kabah. Akhirnya al Walid bin Mughirah, ayahanda Sayidina Khalid memberanikan diri untuk merobohkan bangunan Ka’bah itu. Setelah melihat tiada perkara buruk yang menimpa Al Walid barulah mereka semua berani menolongnya. Namun perasaan takut dan cemas sentiasa datang silih berganti.

Ketika Kabah telah selesai dibangun, mereka ingin meletakkan Hajar Aswad kembali ke tempatnya. Maka berlakulah perebutan di antara mereka karena meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya adalah satu kemuliaan besar. Sudah tentu setiap pemuka Quraish ingin mendapatkan kemuliaan ini. Hampir berlaku peperangan antara kabilah di kalangan kaum Quraisy karenanya. Akhirnya mereka mendapatkan seorang hakim. Hakim memutuskan bahwa orang yang pertama masuk ke Masjidil Haram pada hari itu, dialah yang akan memutuskan siapa yang paling layak meletakkan kembali Hajarul Aswad ke tempatnya. Ketika mereka sedang menunggu dengan perasaan cemas siapakah yang akan membuat keputusan ini, tiba-tiba orang yang masuk adalah Muhammad Bin Abdullah yaitu Nabi Muhammad saw. Semua mereka menjerit: Shodiqul Amin…Shodiqul Amin…mereka begitu senang hati dan setuju terhadap keputusan yang akan diputuskan oleh Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw telah menyelesaikan masalah itu dengan bijaksana dan aman damai serta memuaskan hati semua pihak. Baginda membuka serbannya dan meletakkan Hajar Aswad di tengah-tengah serban. Semua Ketua Kabilah mengangkat serban ini bersama-sama dari penjuru masing-masing. Apabila sampai di tepi Kabah, Nabi Muhammad saw yang meletakkan Hajar Aswad ke tempat asalnya dengan tangannya yang mulia itu. Bukankah pada hakikatnya Nabi Muhammad saw yang meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya? Begitulah orang yang Allah pilih. Pada saat-saat akhir, Allah mendatangkannya walaupun dia tidak berada di situ. Maha Besar Tuhan yang memuliakan siapa yang Dia kehendaki. Dengan itu Nabi Muhammad saw telah menyelamatkan kaum Quraisy dari berlakunya perang saudara di antara mereka.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi