3.5 Penabalan Kerasulan Nabi Muhammad saw

Sampailah suatu hari yang bersejarah, berlakunya satu peristiwa yang telah membawa perubahan besar kepada dunia dan sejarah manusia yaitu turunnya wahyu pertama Nabi Muhammad saw. Menurut pandangan yang dipilih oleh para ulama’, tarikh itu ialah pada malam 27 Ramadan. Ketika Nabi Muhammad saw sedang beribadah di Gua Hira, tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih membawa satu Dibaj dan sejenis kain sutera. Di dalamnya terdapat Kitab. Begitulah Nabi Muhammad saw menceritakan tentang peristiwa itu.

Nabi Muhammad saw berkata, “Daku menjadi takut apabila lelaki itu tiba-tiba muncul dan berjalan ke arah daku sambil menyuruh daku membaca dan ditunjukkan Kitab kepadaku. Daku menjawab dalam ketakutan, “Daku tidak tahu membaca.” Lelaki itu terus memeluk aku dengan kuat. Hampir-hampir nyawaku terkeluar dari jasad namun ketika itu hilang perasaan takutku. Lelaki itu menyuruh aku membaca lagi. Daku menjawab, “Daku tidak boleh membaca.” Dia memeluk daku lagi seperti pelukan yang pertama tadi. Dia menyuruh daku membaca lagi. “Wahai Muhammad, bacalah!” Sekali lagi aku menjawab, “Daku tidak boleh membaca.” Lelaki itu memeluk aku lagi kali ketiga, daku rasa hampir-hampir daku akan mati. “Wahai Muhammad, bacalah!” Daku menjawab lagi, “Daku tidak boleh membaca.”

Lantas lelaki itu berkata :

“Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan. Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Surah al Alaq: 1-5)

Inilah ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Ia diturunkan pada malam Lailatul Qadar, pada bulan Ramadan. Mengenai hal ini, Allah berfirman:

“Sesungguhnya kami (Allah ) telah menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.” (Surah al-Qadr :1)

Nabi Muhammad saw berkata, “Selepas daku membaca ayat ini, lelaki tadi pun hilang dari pandanganku.” Ketika itu Nabi Muhammad saw semakin ketakutan dengan apa yang sedang berlaku kepada dirinya. Pada masa yang sama di rumah Baginda, Sayidatina Khadijah dapat merasakan ada sesuatu yang sedang berlaku kepada suaminya.

Maha Suci Tuhan, begitulah isteri yang telah menjiwai suaminya. Berlaku hubungan hati di antara mereka karena keduanya memiliki hati yang bersih. Sayidatina Khadijah segera mengirim pembantunya untuk melihat Nabi Muhammad saw di Gua Hira. Ketika itu Baginda sudah mula bergerak turun dari gua sambil berlari menuju ke Mekah. Apabila pembantunya sampai di Gua Hira’, dia mendapati Nabi Muhammad saw tiada di situ. Lalu dia bergegas mencari di sekitar kawasan itu namun tidak ditemuinya.

Ketika Nabi Muhammad saw berlari itu, tiba-tiba Baginda mendengar satu suara dari langit memanggil, “Wahai Muhammad!” Ketika Nabi Muhammad saw mendongak ke langit, Baginda nampak satu pemandangan yang paling pelik bagi seorang manusia. Baginda melihat Sayidina Jibril sedang berada di atas Arasy, terawang-awang di udara dengan 600 sayapnya memenuhi langit dari Timur ke Barat sehingga langit kelihatan penuh. Sehingga ke mana saja Nabi Muhammad saw pandang, Baginda tetap melihat Sayidina Jibril. .

Lalu Sayidina Jibril menyeru:

Wahai Muhammad, engkaulah Pesuruh Allah!”

“Wahai Muhammad, engkau Pesuruh Allah, akulah Jibril!”

Menyaksikan hebatnya peristiwa itu, Nabi Muhammad saw berdiri terpaku di tempatnya. Allah telah menggambarkan peristiwa itu di dalam al-Quran:

Demi bintang ketika terbenam.

kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.

ang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli.

sedang dia berada di ufuk yang tinggi.

Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.

maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).

Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.

(An Najm: 1-11)

Begitulah gagahnya Malaikat Jibril. Kalau hendak dibayangkan kekuatan Sayidina Jibril, lihatlah bagaimana dengan ujung satu sayapnya saja, dia boleh mengangkat sebuah negeri dan dibenamkannya kembali ke bumi sehingga menjadi sebuah laut. Itulah Laut Mati yang terletak di perbatasan Jordan dan Palestina sekarang.

Demikian Nabi Muhammad saw melihat Sayyidina Jibril dalam bentuk aslinya yang Allah ciptakan. Sepanjang hayat, Baginda melihat Sayidina Jibril dalam bentuk ini hanya dua kali. Ini yang pertama, dan kedua kali adalah semasa Isra Mikraj. Ini benar-benar satu pemandangan yang hebat dan dahsyat. Pada waktu lain, Sayidina Jibril datang kepada Nabi Muhammad saw dalam berbagai bentuk. Ada kalanya menjelma seorang lelaki, ada kalanya seperti deringan bunyi loceng. Bahkan pernah juga Sayidina Jibril datang dalam rupa Sayidina Dehya’ al-Qalbi yaitu salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang tampan.

Nabi Muhammad saw terpaku di situ beberapa waktu. Bahkan Baginda tidak dapat bergerak karena sangat ketakutan melihat pemandangan yang luar biasa itu. Setelah Sayyidina Jibril hilang, segera Nabi Muhammad saw berjalan menuju ke rumahnya. Apabila sampai di rumah, Sayidatina Khadijah sudah sedia menyambut suaminya. Dari raut wajah suaminya dia sudah tahu suaminya sedang berada dalam kondisi yang sangat ketakutan. Bahkan Sayidatina Khadijah dapat melihat Nabi Muhammad saw menggigil dan minta diselimuti.

Sayidatina Khadijah tanpa banyak tanya terus menyelimuti Nabi Muhammad saw sehingga Nabi Muhammad saw kembali tenang. Ketika itu barulah dia bertanya. Begitulah beradabnya Sayidatina Khadijah kepada suaminya. Dia bertanya dengan penuh hikmah, apakah yang telah berlaku? Nabi Muhammad saw pun menceritakan apa yang berlaku. Sayidatina Khadijah berkata, “Mungkin kamu takut karena diganggu oleh jin?” “Benar,” jawab Nabi Muhammad saw. Lihatlah bagaimana Sayidatina Khadijah berhadapan dengan suaminya ketika itu.

Tentang Sayidatina Khadijah pernah Nabi Muhammad saw bersabda:

“Sayidatina Maryam wanita paling baik di zamannya dan Sayidatina Khadijah pula wanita paling baik di zamannya.”

Sayidatina Khadijah berkata dengan penuh yakin, “Demi Allah, tidak sekali-kali kamu akan ditimpa dengan perkara yang tidak baik. Sedangkan kamu adalah orang yang menyambung silaturahim, kamu membantu orang yang berada di dalam kesusahan dan orang yang lemah, kamulah yang berkorban ketika berlaku bala-bencana, kamu orang yang menunaikan hajat orang lain. Dengan segala amalan kamu yang baik ini, tidak mungkin kamu akan ditimpakan sesuatu yang tidak baik.”

Setelah suasana tenang, Sayidatina Khadijah membawa Nabi Muhammad saw bertemu dengan sepupunya, Waraqah bin Naufal. Waraqah telah memeluk agama Nasrani dan telah mempelajari kitab Nasrani. Darinya dia mengetahui bahwa kini tiba masanya akan diutus seorang Nabi.

Apabila diceritakan kepadanya apa yang berlaku kepada Nabi Muhammad saw, Waraqah mendengar dengan seksama. Memang dia sangat terkejut karena semua ciri seorang Nabi yang diketahuinya ada pada Nabi Muhammad saw. Tidak heran meluncur dari mulutnya, “Maha Besar Tuhan, Maha Besar Tuhan. Demi Allah, telah datang kepadanya Namus al-Akbar yaitu Malaikat Jibril yang telah datang kepada Nabi Musa sebelum ini.”

Waraqah menyambung lagi:

“Alangkah baiknya kalau waktu itu aku masih muda agar aku dapat membantu Nabi Muhammad saw berhabis-habisan ketika kaumnya mengeluarkannya dari negerinya.”

Mendengar peryataan itu, Nabi Muhammad saw terkejut. “Apakah kaumku akan mengeluarkan aku dari Mekah?” tanya Baginda. Baginda tidak pernah menyakiti kaumnya bahkan Baginda juga dari kalangan bangsawan mereka.

Waraqah berkata:

“Demi Allah, tidak ada seorang pun yang membawa perjuangan seperti yang kamu bawa melainkan pasti dia disakiti.”

Selepas enam bulan dari tarikh itu barulah Sayyidina Jibril datang lagi kepada Nabi Muhammad saw. Ketika itu Waraqah telah meninggal dunia.

Tentang Waraqah, Nabi Muhammad saw pernah bersabda :

“Aku telah melihat Waraqah bin Naufal di dalam Surga.”

Demikian Allah telah menilai keazaman hatinya untuk masuk Islam dan berjuang bersama Nabi Muhammad saw.

Peristiwa pertama kali bertemu Sayyidina Jibril memang menakutkan bagi Nabi Muhammad saw. Tetapi lama-kelamaan Baginda merasa rindu untuk bertemu dengan Sayyidina Jibril dan menerima wahyu. Nabi Muhammad saw sering keluar ke padang pasir menunggu kedatangan Sayyidina Jibril. Begitulah hikmah terputusnya wahyu beberapa saat sehingga Nabi Muhammad saw dapat menyesuaikan diri dengan wahyu. Baginda tidak lagi takut bahkan menjadi begitu bersedia untuk menerimanya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi