4.1 Perintah Menyampaikan Dakwah

Perintah Menyampaikan Dakwah

Satu hari ketika Nabi Muhammad saw di tempat tidur dalam keadaan berselimut, datang Sayidina Jibril menyerunya, “Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan!” Kali ini Nabi Muhammad saw sudah diperintahkan untuk menyampaikan kepada orang lain.

Firman Allah SWT:

Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (Surat Al Muddatstsir : 1-7)

Setelah itu, wahyu datang terus menerus. Kemudian Sayidina Jibril datang dengan perintah untuk membangun ibadah.

Firman Allah:

Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu’) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). (Surat Al Muzammil: 1-7)

Setelah itu, Sayidina Jibril datang membawa Surat Ad Dhuha.

Firman Allah:

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi (gelap), Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu , lalu (hati) kamu menjadi puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan. (Surat Ad Dhuha: 1-11)

Terputusnya wahyu dalam tempo enam bulan itu bukan bermakna Allah membiarkan Rasulullah saw tetapi sebagai tempo persiapan. Maka selepas itu ayat demi ayat telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.

Apabila Rasulullah SAW diperintah menyampaikan dakwah, orang pertama yang menerima dakwah itu ialah isterinya, Sayidatina Khadijah. Beliau tidak ragu-ragu sedikit pun untuk menerima Islam. Sayidatina Khadijah adalah orang pertama beriman kepada Rasulullah SAW. Selepas itu, Zaid bin Harithah anak angkat Baginda menerima Islam. Zaid memang tinggal bersama keluarga Nabi Muhammad saw. Malah dia dikenal di Mekah sebagai Zaid bin Muhammad. Sebenarnya, Zaid bukanlah dari keturunan hamba. Sewaktu kecil, kabilahnya diserang dan dia ditawan. Kemudian dia dijual sebagai hamba lalu berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain sehingga dia dibeli oleh Sayidatina Khadijah. Ketika Sayidatina Khadijah menikah dengan Nabi Muhammad saw, dia menyerahkan Zaid kepada Baginda.

Setelah peperangan berakhir, ayah Zaid berusaha menjejakinya dari satu tempat ke satu tempat. Apabila dia mengetahui anaknya berada di Mekah, dia datang berjumpa Baginda untuk menebus kembali anaknya. Rasulullah SAW tidak mau menerima tebusan bahkan Baginda menyerahkan kepada Zaid untuk membuat pilihan. Apakah dia mau kembali bersama ayahnya atau ingin terus bersama Rasulullah SAW. Sekiranya Zaid mau pulang bersama ayahnya, Baginda akan melepaskannya tanpa sebarang tebusan. Zaid berkata, “Demi Allah, aku tidak akan bertemu orang yang memberi kasih sayang kepadaku lebih dari Rasulullah SAW walaupun dari ibu dan ayah kandungku sendiri.” Semua orang sangat terkejut dengan pendirian Zaid. Bahkan Rasulullah saw juga terkejut, apalagi ayahnya. Demi memuliakan Zaid dan ayahnya, Baginda menyatakan bahwa Zaid telah dimerdekakan. Seterusnya Rasulullah SAW mengambilnya sebagai anak angkat lalu dia dinamakan Zaid bin Muhammad. Ketika turun wahyu melarang anak angkat di-bin-kan kepada ayah angkatnya, Rasulullah Muhammad SAW menukar kembali nama Zaid kepada nama asalnya yaitu Zaid bin Harithah.

Ketika Rasululah Muhammad saw menawarkan Islam kepada Sayidina Zaid dia langsung menerimanya. Allah SWT telah memilihnya untuk bersama Baginda. Orang ketiga menerima Islam dari ahli rumah Rasulullah SAW ialah Sayidina Ali. Sayyidina Ali juga tinggal di rumah Rasulullah SAW.

Pada suatu ketika Abu Talib menghadapi kesempitan hidup. Karena kasih sayang Rasulullah SAW yang sangat mendalam terhadap pamannya, Baginda berbincang dengan Sayidina Hamzah dan beberapa orang ahli keluarga terdekat yang lain. Mereka memutuskan agar setiap seorang dari mereka mengambil seorang anak Abu Talib untuk dipelihara. Abu Talib setuju dengan usulan Rasulullah SAW itu. Semua anak Abu Thalib diserahkan kepada saudara-saudaranya yang ingin memelihara mereka. Abu Talib hanya mempertahankan anak sulungnya, Uqail untuk tinggal bersamanya. Rasulullah SAW telah mengambil Sayidina Ali untuk dipelihara. Demikianlah Allah SAW hendak memuliakan Sayidina Ali agar dapat bersama Baginda sejak dari kecil lagi. Karena itulah Sayyidina Ali tidak pernah sujud kepada berhala. Oleh karena itu, Sayidina Ali ini dipanggil Karramallahu Wajhah, yang bermakna Allah SWT telah memuliakan wajahnya dari sujud kepada selain Allah SWT.

Ketika Sayidina Ali menerima Islam, umurnya baru sepuluh tahun. Begitu juga anak-anak perempuan Rasulullah yaitu Sayidatina Ruqayyah, Ummu Kalthum, Zainab dan Fatimah. Semuanya telah menerima Islam. Rasulullah SAW memulakan dakwah bermula dari dirinya dahulu kemudian isteri Baginda dan ahli keluarganya.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi