4.4 Berdakwah Kepada Keluarga Terdekat

Berdakwah Kepada Keluarga Terdekat

Sebelum seluruh umat dapat diselamatkan, Rasulullah SAW diperintahkan untuk menyelamatkan saudara dan kerabat dekatnya terlebih dahulu. Baginda Nabi Muhammad saw mengumpulkan seluruh kaum kerabat dari Bani Abdul Mutalib di rumahnya. Tanpa memberi peluang kepada tuan rumah berbicara dalam majleis itu, Abu Lahab terlebih dahulu bangun berbicara. Dia berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau kumpulkan kami untuk memperkatakan tentang agama kamu, tak perlu kamu berbicara. Sesungguhnya kami tidak ada waktu untuk mendengarnya!” Suasana menjadi tegang dengan kata-kata Abu Lahab. Melihat hal itu, Rasulullah saw menangguhkan dahulu apa yang ingin Baginda sampaikan. Selepas itu Rasulullah saw memanggil kembali kaum kerabatnya kecuali Abu Lahab. Kali ini Rasulullah saw mengadakan kenduri di rumahnya.

Setelah menjamu mereka makan, barulah Baginda berkata kepada mereka. Rasulullah saw menyebut nama mereka seorang demi seorang termasuk kaum wanita dari kalangan bibi dan anak perempuannya. Rasulullah saw bersabda, “Wahai Sofiyyah, wahai Fatimah, aku tidak akan dapat membela kamu di hadapan Allah SWT melainkan kamu menerima agama Allah ini.”

Hasil dari dakwah Rasulullah saw ini, sebagian dari kerabat Baginda menerima Islam. Di antara yang menerima Islam waktu itu ialah bibi, Sayidatina Sofiyyah binti Abdul Mutalib.

Rasulullah Muhammad saw meneruskan dakwahnya mengajak masyarakat mengenali Allah SWT, Tuhan yang sebenarnya. Tuhan yang telah menciptakan manusia, langit dan bumi. Tuhan yang telah menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji hambanya, siapakah yang baik amalannya.

Sebagian kecil dari masyarakat Mekah beriman dengan agama Islam terutama dari golongan miskin dan golongan yang lemah. Kebanyakan mereka adalah orang yang tidak ada kuasa, golongan masyarakat jelata, sangat sedikit dari golongan orang kaya dan penguasa. Di antara mereka ialah Sayidina Yasir, isterinya Sayidatina Sumayyah dan anaknya Sayidina Ammar. Begitu juga Sayidina Khabab bin Arat, Sayidina Bilal, Sayidina Suhaib ar Rumi, Sayidina ‘Amir bin Fuhairah, Sayidina Abdullah bin Mas’ud. Mereka semua dari golongan yang lemah. Ada yang dari golongan hamba, ada yang merdeka tapi tidak ada harta dan tidak ada kuasa.

Melihat perkembangan itu, pembesar Quraisy mula menghalang masyarakat dari beriman kepada Rasulullah Muhammad saw. Sayidina Abu Bakar yang sudah bertekad untuk memperjuangkan Tuhan dan Rasulnya telah menyampaikan pesan al-Quran di perkarangan Ka’bah. Karena merasa terlalu tergugat dengan al-Quran dan kebenaran, pembesar kafir Quraisy menyerbu dan memukul Sayidina Abu Bakar hingga berdarah mukanya. Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Sayidina Abu Bakar mundur dari perjuangannya memperkenalkan Tuhan Rafiqul A’la dan memperkenalkan Rasulullah SAW kepada penduduk Mekah.

Seorang sahabat lagi yang menyatakan imannya adalah Sayidina Abdullah bin Mas’ud. Ketika itu dia hanyalah pengembala kambing Uqbah bin Muayyith, salah seorang pembesar Quraisy. Penduduk Mekah selalu menertawakannya karena badannya yang sangat kurus. Pernah sekali ketika dia mau menaiki himarnya, terbuka betisnya lalu tertawalah para sahabat.

Rasulullah saw bersabda kepada para sahabat:

“Apakah kamu mentertawakan kurusnya betis Ibnu Mas ‘ud? Demi Allah, kaki Ibnu Mas’ud ini dalam timbangan Allah SWTlebih berat dari Bukit Uhud.”

Sayidina Abdullah bin Mas’ud pergi ke Ka’bah dan membaca surah ar-Rahman dengan suara yang lantang. Orang kafir Quraisy menyerbu dan memukulnya. Abdullah meneruskan bacaannya. Walaupun dipukul bertubi-tubi, dia tidak beranjak sedikit pun bahkan terus menghabiskan dakwahnya memperkenalkan Tuhan melalui Surat ar-Rahman.

Berita tentangnya telah sampai kepada Rasulullah saw. Baginda bertanya kepadanya, “Wahai Ibnu Mas’ud, apa yang kamu telah lakukan?” Ibnu Mas’ud berkata, “Kalau Rasulullah saw mau saya ulangi lagi perbuatan itu, niscaya aku akan melakukannya.”

Rasulullah saw memintanya supaya tidak meneruskannya sehinggalah tiba waktu yang lebih sesuai. Begitulah kegigihan dan jiwa perjuangan yang dimiliki oleh para sahabat setelah hati mereka mengenal Allah SWT dan Rasul-Nya. Mereka sanggup dipukul dan dihina demi memperkenalkan Tuhan dan Wakil Tuhan kepada masyarakat.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi