4.6 Perbincangan al Walid bin Mughirah dengan Rasulullah Muhammad saw

Perbincangan al Walid bin Mughirah dengan Rasulullah Muhammad saw

Kafir Quraisy tidak putus asa, mereka bersidang lagi di Darul Nadwah. Kali ini mereka mengambil keputusan untuk bertatap muka dengan Rasulullah saw. Mereka berharap dengan perbincangan ini dapat menyelesaikan masalah. Sekiranya kali ini Rasulullah Muhammad saw tidak menerima tawaran mereka dan masih ingin meneruskan dakwahnya, mereka akan bertindak lebih keras lagi. Mereka mengirim al Walid bin Mughirah, orang yang paling berpengaruh dan paling fasih berbahasa di kalangan Quraisy. Al Walid adalah tokoh yang disegani oleh seluruh bangsa Arab. Al Walid mencari waktu yang sesuai untuk bertatap muka dengan Rasulullah saw. Akhirnya, ketika Nabi Muhammad saw sedang duduk seorang diri di tepi Ka’bah, dia datang lantas duduk di sebelah Baginda. Dia mengajak Rasulullah berbincang. Dengan bijaksana al Walid melontarkan pertanyaan kepada Baginda Nabi Muhammad saw, “Wahai Muhammad, apakah sebenarnya yang telah terjadi? Apa yang kamu perjuangkan? Perjuangan kamu telah memecah-belah kami. Di antara ibu ayah dan anak-anak, antara suami dan isteri dan sesame kabilah. Mungkin engkau sakit, kalau begitu kami bersedia mengumpulkan uang untuk mengobati kamu. Kami dapat membayar tabib yang paling hebat. Kalau kamu mengharapkan harta dan uang dari perjuangan kamu ini, Quraisy bersedia mengumpulkan harta dan uang untuk kamu sehingga kamu jadi orang yang paling kaya di kalangan kami.”

Rasulullah hanya mendengar dengan baik walaupun kata-kata yang disampaikan oleh al Walid itu telah menyebabkan Baginda terasa sedih. Tetapi begitulah adab berbincang bagi seorang Rasul dan pendakwah paling ulung. Al Walid menyambung lagi, “Kalau kamu ingin kemuliaan, kami jadikan kamu ketua kami. Kalau kamu ingin kekuasaan, kami angkat kamu jadi raja kami di Mekah. Kalau kamu ingin isteri, kami kawinkan kamu dengan siapa saja yang kamu ingin dari kalangan gadis Quraisy. Apa saja yang kamu inginkan wahai Muhammad kami akan tunaikan. Hanya satu permintaan kami yaitu hentikanlah perjuangan kamu ini!”

Apabila al Walid selesai berbicara, Rasulullah Muhammad saw dengan bijaksana bertanya balik kepadanya, “Apakah engkau sudah selesai wahai al Walid?” “Benar!” jawab al Walid. Maka Rasulullah saw bersabda, “Kalau begitu izinkan daku berbicara pula. Daku telah mendengar apa yang kamu sampaikan dan sekarang giliran engkau mendengar dariku pula.” Dengan sikap Rasulullah saw itu, al Walid bersedia untuk mendengar ucapan Baginda. Apakah Baginda setuju dengan usulan al Walid itu? Bagi Rasulullah kedatangan al Walid ini ibarat menyerah diri kepada Baginda.

Rasulullah membacakan beberapa ayat dari Surah al Fussilat kepada al Walid, orang yang paling fasih di kalangan bangsa Arab.

“Dengan nama Aliah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Haa Mim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. Mereka berkata: “Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan telinga kami ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sesungguhnya kami bekerja (pula)” Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya, “ (Surah al Fussilat: 1-6)

Setiap ayat yang dibaca oleh Rasulullah saw telah menguasai seluruh perasaan, pikiran dan pancaindera al Walid. Dia telah mendengar mukjizat al-Quran dari mulut Rasulullah saw sendiri. Sedangkan al-Quran diturunkan dalam Bahasa Arab yang sangat luar biasa. Sampai pada ayat berikutnya, al Walid tidak tahan lagi. Al Walid merasa terlalu takut. Dia sadar manusia yang sedang berbicara dihadapannya itu adalah Sodiqul Amin. Bahkan dia yakin kata-kata itu bukan dari Nabi Muhammad saw tapi dari Allah SWT. Bila sampai ke ayat ini:

Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsamud”. (Surah al Fussilat: 13)

Al Walid bangun menerpa ke arah Rasulullah saw sambil meletakkan tangannya di mulut Baginda. Dia memohon kepada Rasulullah saw agar jangan menyambung lagi. Al Walid merasakan seolah-olah kilat petir akan menyambar kaum Quraisy juga. Setelah itu al Walid duduk kembali ke tempatnya. Nabi Muhammad saw menyambung lagi bacaan ayat-ayat tadi hingga sampai ke ayat sujud, maka Nabi Muhammad saw pun sujud. Apabila Nabi Muhammad saw bangun dari sujud, Baginda menoleh kepada al Walid sambil berkata, “Inilah jawaban daku.”

Nabi Muhammad saw hanya membacakan beberapa ayat dari Surah Fussilat kepada al Walid sebagai jawaban kepada satu paket tawaran Quraisy. Maha Besar Tuhan. Allah SWt telah memperlihatkan kebesaran al-Quran sebagai mukjizat Rasulullah saw. Al Walid bangun dari pertemuan itu dalam keadaan lemah lunglai bahkan tak mampu bercakap apa-apa lagi. Dia benar-benar terkejut, terpegun bahkan tersentuh. Inilah pertama kali dia mendengar al-Quran secara langsung dari mulut Rasulullah saw. Dia segera kembali kepada pembesar Quraish yang sedang menunggunya di Darul Nadwah. Bila al Walid masuk, dari air mukanya saja kaum Quraisy sudah dapat melihat perubahan yang jelas pada al Walid. Memang dia sangat terkesan dengan ayat-ayat yang baru saja didengarnya tadi. Benarlah sabda Rasulullah saw:

“Sesungguhnya pada kata-kata yang indah tersusun itu ada sihir.”

Kalaulah kata-kata manusia biasa saja dapat mempunyai kekuatan seperti sihir apatah lagi al-Quran. Bukankah al-Quran Kalamullah dan mukjizat terbesar Rasulullah saw. Ketika al walid memasuki Darul Nadwah, para pembesar Quraisy berbisik sesama mereka, “Demi Allah, al Walid tidak pulang dengan wajahnya sewaktu dia pergi.”

Mereka bertanya, “Apa yang telah berlaku, wahai al Walid?” al Walid menjawab, “Aku telah mendengar kata-kata yang belum pernah aku dengar dalam hidupku.” Terluncur satu pengakuan dari al Walid, orang yang paling fasih di kalangan bangsa Arab bahkan tempat rujuk bagi ahli syair Arab.

Bukankah kemahiran al Walid dan bangsa Arab adalah bersastera? Sebab itu, setiap Nabi datang membawa mukjizat dari jenis kemahiran kaumnya. Nabi Musa as datang membawa tongkat sakti berhadapan dengan Firaun yang terkenal dengan sihir. Nabi Isa as datang dengan mukjizat dapat mengobati penyakit bahkan dapat menghidupkan orang mati kepada kaumnya yang pakar dalam ilmu pengobatan. Maka Rasulullah saw dibekali dengan mukjizat al-Quran dalam Bahasa Arab yang sangat indah dan tiada taranya kepada bangsa Arab yang sangat mahir bersastera. Kemampuan bersastera menjadi suatu yang sangat dibanggakan dan dipertandingkan di antara mereka.

Mendengar pernyataan al Walid, pembesar Quraisy bertanya, “Apakah kamu telah meninggalkan agama kamu? “Tidak…tidak…,” jawab al Walid. “Tetapi aku tak pernah mendengar kata-kata seperti itu.” Kaum Quraisy berhujah lagi, “Itu Syair!” “Bukan Syair!”, bentak al Walid. “Bukankah aku orang yang paling mahir tentang syair di kalangan kamu!” “Kalau begitu, Muhammad adalah seorang Pendeta,” ujar mereka, al Walid menafikan,” Tidak! Aku cukup kenal penampilan seorang pendeta.” “Kalau begitu, Muhammad seorang yang gila!” “Tidak! Aku cukup mengenali perwatakan orang gila,” bantah al Walid. “Kalau begitu, Muhammad adalah seorang ahli sihir!” tuduh kaum Quraisy. “Bukan! Aku juga cukup kenal tipu-daya seorang ahli sihir. Muhammad sama sekali bukan seperti yang kamu sebutkan. Aku dapat merasakan dia lain dari yang lain!” ujar al Walid.

Pembesar Quraisy mengalami kebuntuan, “apakah yang hendak kita labelkan kepada Muhammad?” al Walid bertanya kepada kaumnya. “Berterus-teranglah, apakah kamu ingin mendengar pandangan aku?” “Silakan!” jawab mereka, al Walid pun berucap, “Wahai kaum Quraisy, aku beri dua pilihan kepada kamu semua dalam masalah ini. Pertama, kita ikut Muhammad karena dia sebenarnya memperkatakan kebenaran. Kata-katanya benar!” ‘Tidak mungkin!” bentak Quraisy. Al Walid menyambung lagi, “Kalau begitu, biarkan dia, jangan ganggu dia, beri laluan kepadanya. Sekiranya dia menang dan berjaya menguasai seluruh Arab, bukankah itu juga kemenangan dan kemuliaan kamu. Bukankah dia juga dari bangsawan Quraisy. Sekiranya dia ditentang dan dibunuh, bukankah itu yang kamu inginkan selama ini?” al Walid memang seorang yang bijaksana. Namun kaum Quraisy tetap tidak menerima kedua usulan yang diajukan olehnya.

Demi mengambil hati kaumnya lagi dan karena tidak sanggup kehilangan pengaruhnya, al Walid berkata kepada mereka, “Kalau begitu, kita anggap dia ahli sihir!” Tuduhan yang agak sesuai ialah ahli sihir. Rasulullah Muhammad saw memang memiliki kata-kata yang dapat menyihir masyarakat. Bahkan dapat memecah-belah di antara ibu ayah dan anak-anak dan di antara suami dan isteri. Ini tuduhan paling masuk akal kepada Baginda. Al Walid sudah melihat kebenaran Rasulullah saw tetapi malah mempengaruhi kaumnya menolak kebenaran. Karena takut kehilangan kedudukan dan pengaruhnya, dia telah menolak bahkan menghina kebenaran dan Nabi Muhammad saw. Rupanya Allah SWT sangat murka kepada manusia yang bersikap begitu. Lalu wahyu telah mengabadikan sikap al Walid menolak kebenaran sebagai pengajaran kepada umat Nabi Muhammad saw sepanjang zaman.

Firman Allah di dalam Al-Quran:

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku-lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Quran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?, kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: “(Al Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia”. Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. (Surah al Muddatthir: 11-26)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi