5.4 Penyiksaan Terhadap Orang Islam

Penyiksaan Terhadap Orang Islam

Setelah strategi membunuh Nabi Muhammad saw ini gagal, para pemuka Qurays kemudian memutuskan strategi baru untuk menghadapi Rasulullah saw dan seluruh orang Islam ketika itu. Mereka sudah menyekat orang luar Mekah dari mendengar dakwah Rasulullah saw. Sekarang mereka ingin menyekat orang Mekah juga. Mereka tidak akan membenarkan siapa pun mendengar dakwah Rasulullah saw lagi. Bahkan mereka mau memaksa anggota kabilah masing-masing yang telah Islam supaya kembali murtad. Sesiapa yang tidak patuh akan disiksa. Hamba abdi diserahkan kepada pemilik mereka sendiri untuk menyiksanya. Sementara yang merdeka akan ditangani oleh kabilah mereka.

Bermulalah era para Sahabat Rasulullah saw diazab oleh kaum Qurays. Di antara yang disiksa dengan kejam ialah Sayidina Bilal bin Rabah. Beliau adalah hamba dari Umayyah Bin Khalaf. Umayyah Bin Khalaf pun menyiksanya. Oleh karena Sayidina Bilal enggan meninggalkan Islam, dia dibawa pada waktu terik matahari sedang membakar padang pasir. Dalam cuaca yang sangat panas, angin padang pasir yang panas, cahaya matahari yang membakar bahkan pasirnya pun panas, Sayidina Bilal dibaringkan di atas pasir panas tanpa mengenakan baju kemudian dadanya ditindih dengan sebongkah batu besar yang juga panas. Bayangkanlah bagaimana para Sahabat terpaksa berkorban demi mempertahankan iman. Demi iman, mereka rela mengorbankan segala yang mereka miliki termasuk nyawa mereka. Kemudian Sayidina Bilal cambuk dan dipaksa keluar dari Islam. Bahkan dipaksa mencaci Rasulullah saw, jawaban Sayidina Bilal hanyalah kalimah Ahad, Ahad bermaksud Yang Maha Esa, Yang Maha Esa. Walaupun Sayidina Bilal hanya seorang hamba tetapi keyakinannya kepada Allah SWT dan kecintaannya kepada Rasulullah saw sangat luar biasa. Sehingga dia mampu menanggung ujian yang seberat ini demi mempertahankan keimanannya. Apakah umat Islam hari ini tahan diuji demi Tuhan, Rasul dan demi kebenaran?

Selanjutnya keluarga Sayidina Yasir. Dia, isterinya Sayidatina Sumaiyah dan anak mereka Sayidina Ammar. Mereka sekeluarga disiksa oleh Abu Jahal. Akhirnya Sayidina Yasir dan isterinya syahid mempertahankan keimanan. Setelah puas disiksa, mereka berdua dibunuh di hadapan anak mereka Sayidina Ammar. Kematian kedua orang tuanya di hadapan matanya ternyata tidak menggugat keimanan Sayidina Ammar. Setiap kali Rasulullah Muhammad saw melalui kawasan itu, Baginda tidak lekang dari mendoakan mereka. Baginda bersabda:

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya syurga adalah janji untuk kamu.”

Beruntung keluarga ini, sejak di dunia Rasulullah saw telah menjanjikan syurga kepada mereka. Selepas kedua ibu dan ayah Sayidina Ammar syahid, Abu Jahal melipatgandakan penyiksaannya kepada Sayidina Ammar. Abu Jahal berkata, “Demi Allah wahai Ammar, aku tidak akan melepaskan kamu sehingga kamu menghina Muhammad!”

Waktu itu, seekor kumbang terbang di dekat mereka. Abu Jahal memaksa Sayidina Ammar mengaku bahwa kumbang itu adalah Tuhannya. Oleh karena terlalu berat penyiksaan yang dibuat oleh Abu Jahal, akhirnya Sayidina Ammar terpaksa berpura-pura menghina Rasulullah saw dan mengaku bahwa kumbang itu Tuhannya. Sementara hatinya tidak sedikit pun berubah dari keyakinannya dan kecintaanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan hatinya semakin sedih dan pilu karena malu kepada Allah dan malu kepada Rasulullah saw. Memang siksaan yang ditimpakan kepadanya terlalu berat karena Abu Jahal benar-benar melepaskan kegeramannya terhadap keluarga Sayidina Ammar bin Yasir atas kegagalan segala usahanya menghalang kebangkitan Islam.

Selepas peristiwa itu, Sayidina Ammar menemui Nabi Muhammad saw dengan hati yang pedih, luka dan malu di atas apa yang berlaku pada dirinya. Dia mengaku kepada Baginda Nabi Muhammad saw bahwa dia terpaksa menurut kata Abu Jahal karena tidak mampu lagi menanggung siksaan yang ditimpakan kepadanya. Rasulullah saw dapat membaca apa yang ada di dalam hati Sayidina Ammar. Baginda berpesan, “Kalau mereka kembali menyiksa kamu, tidak mengapa kamu ulangi lagi pengakuan kamu.”

Benar, hati Sayidina Ammar tidak berubah sehingga Allah SWT menurunkan wahyu tentang hatinya.

Firman Allah:

“Kecuali orang orang yang dipaksa sedangkan hati mereka tetap dengan Iman. Tetapi barangsiapa yang hatinya merasa senang dengan kekufuran, ke atas mereka kemurkaan Allah dan bagi mereka azab yang pedih.”

Di antara yang menerima penyiksaan lainnya ialah seorang wanita Islam bernama Zinnirah. Dia telah disiksa sehingga buta kedua matanya. Kuffar Qurays telah mengejeknya dengan berkata, “Latta dan Uzza telah membutakan mata kamu karena kamu telah kufur kepada Latta dan Uzza.”

Selepas itu Allah SWT telah mengembalikan penglihatan Sayidatina Zinnirah untuk menghina orang kafir yang menyeksanya. Selain mereka, banyak lagi yang diazab dan disiksa. Sayidina Abu Bakar yang telah mengambil tanggungjawab membela mereka. Dia datang menebus mereka seorang demi seorang dari pemilik mereka bahkan memerdekakan mereka. Untuk menebus Sayidina Bilal, Sayidina Abu Bakar terpaksa menyerahkan kepada Umayyah seorang hambanya dan membayar sejumlah uang kepadanya.

Seorang lagi sahabat yang disiksa dengan kejam ialah Sayidina Khabbab Bin Arat. Pernah dalam satu majelis di zaman pemerintahan Sayidina Umar al Khattab, Sayidina Umar bertanya kepada Sayidina Khabbab “Apakah azab yang paling dahsyat yang pernah kamu lalui?” Sayidina Khabbab berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku tidak pernah alami azab yang separah ini,” sambil beliau membuka belakangnya. Rupanya belakang badan Sayidina Khabbab dari atas sampai ke bawah dipenuhi oleh lubang parut hitam bekas terbakar. Sayidina Khabbab menceritakan, “Wahai Amirul Mukminin, kuffar Qurays telah membakar batu-batu kecil sehingga merah menyala. Kemudian mereka menanggalkan pakaian aku. Kemudian mereka telah menyeret aku di atas batu-batu panas yang menyala itu”

Selepas disiksa begitu, Sayidina Khabbab datang mengadu kepada Rasulullah saw yang sedang duduk di Kabah, “Wahai Rasulullah, Qurays telah mengazab kami,” sambil ditunjukkan kepada Rasulullah saw kesan perbuatan kuffar Qurays kepadanya.

Sayidina Khabbab berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah untuk kami dan mohonlah bantuan dan kemenangan untuk kita.” Baginda Nabi Muhammad saw bersabda kepada Sayidina Khabbab, “Wahai Khabbab, pejuang sebelum kita, di kalangan para Nabi, ada yang ditanam di dalam lubang lalu digergaji dari atas kepalanya sehingga terbelah dua badannya. Ada yang disikat dagingnya dengan penyikat besi. Namun semua itu tidak menyebabkan mereka berganjak sedikit pun dari agama-Nya. Wahai Khabbab, demi Allah, Allah akan memenangkan agama ini. Nanti orang dapat menunggang kendaraan seorang diri dari San’a ke Hadramaut. Tidak ada yang dia takut melainkan Allah SWT. Perjalanannya aman. Tetapi kamu semua ingin kemenangan yang segera.”

Kemenangan pasti datang, bukankah kemenangan itu janji Allah SWT? Allah SWT tidak pernah mungkir janji. Sebelum kemenangan diberikan, para pejuang akan menempuh ujian. Ujian akan menyaring para pejuang sehingga yang kekal hanyalah mereka yang sangat ikhlas. Sehingga terpisahlah di antara orang beriman dan orang munafik. Setelah itu barulah kemenangan diberikan. Karena Sayidina Khabbab sangat yakin kepada Rasulullah saw dia telah bersabar dan yakin bahwa kemenangan pasti tiba suatu hari nanti. Bayangkanlah kalau dalam mempertahankan kebenaran kita harus menghadapi ujian seberat yang menimpa Sayidina Khabbab. Sanggupkah kita bersabar dan tetap meyakini bahwa Allah SWT akan menangkan agama ini?

Demikianlah pengorbanan generasi Islam pertama. Di atas pengorbanan merekalah Islam terbangun dan akhirnya sebagian besar manusia telah mendapat kebenaran dari Tuhan. Layaklah mereka mendapat gelaran ‘Radhiallahu Anhum’. Allah SWT telah meredhai mereka.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi