5.6 Islamnya Sayidina Umar bin Khattab

Islamnya Sayidina Umar bin Khattab

Tekanan dan kezaliman kuffar Qurays terus berlaku hingga islamnya Sayidina Umar bin Khattab. Sebelum masuk Islam, beliau adalah salah seorang pemimpin Qurays yang sangat memusuhi Islam. Peristiwa yang sangat menggembirakan Rasulullah SAW ini berlaku pada tahun ketiga setelah kenabian. Sayidina Umar bukan saja terkenal seorang yang keras dan gagah perkasa tetapi dia juga terkenal seorang orator yang bijaksana. Kalau dia menginginkan sesuatu perkara pasti dia akan mengusahakannya sampai berhasil. Ciri-ciri ini juga ada pada Amru bin Hisyam yang terkenal sebagai Abu Jahal. Tidak heran jika Rasulullah saw pernah berdoa:

“Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah seorang dari dua Umar (Umar bin Khattab atau Amru bin Hisyam) ”

Bukankah orang yang berwatak seperti ini sangat diperlukan dalam membangun Islam? Maka Allah telah mengabulkan doa Nabi Muhammad saw kepada Umar bin Khattab.

Ketika para sahabat ingin berhijrah ke Habsyah, seorang wanita Islam bernama Ummu Abdullah berpakat dengan anaknya untuk berhijrah bersama ke Habsyah. Mereka berjanji akan bertemu di belakang bukit Mekah pada waktu tengah malam. Di tengah malam itu Ummu Abdullah keluar dari rumahnya menuju ke belakang bukit. Anaknya sudah pun berada di sana. Tiba-tiba Ummu Abdullah berpapasan dengan Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab bertanya, “Kemana kamu mau pergi, wahai Ummu Abdullah?”

Kuffar Qurays sudah sepakat tidak membenarkan orang-orang Islam keluar dari Mekah. Ummu Abdullah menjawab, “Bukankah kamu telah menyiksa dan menghalang kami? Bukankah kamu tidak perlukan kami lagi? Oleh karena itu biarkanlah kami meninggalkan Mekah. Kamu tidak akan rugi apa-apa kalau kamu biarkan kami pergi.”

Hati Umar bin Khattab tersentuh mendengar kata-kata Ummu Abdullah.

Beliau pun berkata, “Kalau begitu, anggaplah ini ucapan perpisahan di antara kita, wahai Ummu Abdullah.”

Rupanya Umar bin Khattab mempunyai hubungan darah dengan Ummu Abdullah.

Umar berkata lagi, “Moga keselamatan menyertai perjalanan kamu.”

Ummu Abdullah sangat terkejut mendengar penuturan Umar yang lunak itu karena beliau terkenal dengan permusuhan yang paling keras terhadap Islam. Dialah yang telah menawarkan diri mengazab seorang jariah dari Bani Muammilah. Sedangkan Umar bukan dari Bani Muammilah. Dia telah memukul jariah itu sekehendak hatinya sehingga dia jemu untuk memukul lagi. Maha Besar Tuhan, pada malam itu buat pertama kalinya Umar bin Khattab berbicara kepada seorang Islam dengan lunak. Seolah-olah hatinya sedang diubah oleh Tuhan. Allah-lah yang Maha Mengetahui.

Ketika Ummu Abdullah sampai, anaknya bertanya, “Wahai ibu, apakah ada yang melihat kamu?”

Ummu Abdullah menjawab, “Umar bin Khattab telah melihat aku.”

Mendengar nama Umar saja cukup membuat Abdullah merasa darahnya berdesir.

Dia bertanya lagi, “Tetapi bagaimana ibu dapat lepas?”

Ummu Abdullah menjawab, “Maha Besar Tuhan, bukan saja Umar melepaskan aku, bahkan Umar telah mendoakan perjalananku selamat!”

Mendengar ibunya memuji Umar, Sayidina Abdullah berkata, “Mungkin karena ibu terlalu menaruh harapan agar Umar bin Khattab masuk Islam.”

Ibunya menjawab, “Benar, demi Allah, aku memang selalu berharap agar Umar masuk Islam.”

Sayidina Abdullah sama sekali tidak percaya Umar akan menerima Islam. Sayidina Abdullah berkata, “Wahai ibu, demi Allah, Umar bin Khattab tidak akan mengucap dua kalimah syahadah sehingga himarnya terlebih dahulu mengucapkannya.” Baginya, mustahil orang seperti Umar bin Khattab akan masuk Islam. Namun Allah SWT berhak memilih siapa saja yang Dia kehendaki untuk agama-Nya.

Memang benar waktu itu Umar bin Khattab belum lunak dengan Islam. Dia hanya lembut dengan Ummu Abdullah karena hubungan darah di antara mereka.

Ketika Umar bin Khattab pulang ke rumahnya malam itu, pikirannya gundah. Dia bertanya pada dirinya sendiri, “Mengapa semua musibah ini menimpa Qurays? Mengapa Qurays berpecah-belah? Mengapa penduduk Mekah sudah mulai meninggalkan Mekah? Siapakah sumber segala musibah ini? Bukankah semua ini angkara Muhammad?”

Kebenciannya kepada Rasulullah saw semakin memuncak. Ketika itu dia berjanji kepada dirinya bahwa dia akan membunuh Nabi Muhammad saw agar Qurays dapat keluar dari musibah ini.

Keesokan paginya, begitu Umar bangun dari tidurnya, dia terus mempersiapkan dirinya dengan pakaian dan kelengkapan perang. Dia keluar dari rumahnya dengan hati yang bulat untuk membunuh Nabi Muhammad saw.

Rupanya ada seorang lelaki Islam melihat Umar berjalan tergesa-gesa. Walaupun dia sudah masuk Islam tetapi orang Mekah tidak mengetahui keislamannya. Karena tekanan yang terlalu hebat ketika itu, lelaki ini telah merahasiakan keislamannya. Beliau adalah Sayidina Nu’aim bin Abdullah. Dia melihat Umar bin Khattab dengan pakaian perangnya dan lengkap bersenjata. Bahkan dari air mukanya terlihat jelas dia sedang marah.

Sayidina Nu’aim memberanikan dirinya menegurnya, “Kamu hendak pergi ke mana, wahai Umar?”

Umar bin Khattab menjawab dengan bersemangat, “Aku mau pergi membunuh orang yang telah memecah-belah kaumku dan menghina datuk-nenekku!”

Sayidina Nu’aim merasa cemas. Dia bimbang berlaku sesuatu yang tidak diinginkan kepada Baginda Nabi Muhammad saw. Hatinya tak putus-putus berdoa kepada Tuhan. Terlintas di hatinya untuk mencoba mengajak Umar berfikir.

Dia pun bertanya, “Wahai Umar, apakah kamu rasa kamu akan lepas dari Bani Abdul Mutalib sekiranya kamu membunuh Muhammad?”

Umar menjawab dengan tegas, “Aku tidak peduli, walaupun aku akan dibunuh oleh Bani Abdul Mutalib!”

Sayidina Nu’aim semakin cemas melihat Umar sudah tidak bimbang terhadap nyawanya sendiri. Bagaimanapun, dia mesti mencoba memperlambat agar dia sempat memberitahu Rasulullah saw dan para Sahabat.

Dia coba mengalihkan perhatian Umar. Dia berkata, “Mengapa kamu tidak mulai terhadap keluarga kamu sendiri?”

Umar bin Khattab segera bertanya, “Siapa ahli keluargaku yang kamu maksudkan?”

Sayydina Nu’aim segera menjawab, “Fatimah bin Khattab, adik perempuan kamu.”

“Apakah Fatimah telah meninggalkan agama nenek moyangnya?” Bentak Umar dengan marah.

Sayidina Umar segera menuju ke rumah adiknya. Ketika itu Sayidatina Fatimah bin Khattab dan suaminya Sayidina Said bin Zaid baru masuk Islam. Ketika Sayidina Umar sampai ke rumah mereka, dia dapat mendengar suara orang membaca al-Quran. Rupanya Sayidatina Fatimah dan suaminya sedang belajar al-Quran dari Sayidina Khabbab bin Arat. Rasulullah saw mengutus Sayidina Khabbab bin Arat untuk mengajar mereka.

Umar mengetuk pintu rumah dengan kuat. Sayidina Umar bin Khattab adalah seorang lelaki bertubuh besar, gagah dan menggerunkan. Di kalangan sahabat Rasulullah saw, yang bertubuh besar seperti Sayidina Umar bin Khattab ialah Sayidina Khalid al Walid.

Sayidatina Fatimah dan suaminya segera menyembunyikan Sayidina Khabbab. Ketika pintu dibuka Umar terus membentak adiknya, “Apa yang aku dengar tadi?

Sayidatina Fatimah ketakutan.

Umar membentak lagi, “Ya, aku telah mendengarnya!! Apakah itu dari Muhammad?!”

Sayidatina Fatimah bin Khattab dan suaminya hanya diam. Umar berpaling kepada Sayidina Said     sambil bertanya, “Apakah kamu telah murtad?!”

Sayidina Said dengan tenang menjawab, “Aku tidak murtad wahai Umar, tetapi aku telah masuk Islam.”

Tangan Umar lantas memukul Sayidina Said. Pukulan pertama menyebabkan hidung Sayidina Said berdarah. Sayidatina Fatimah mencoba menghadang Umar dari memukul suaminya. Beliau pula dipukul sehingga berdarah hidungnya. Sayidatina Fatimah tidak dapat menahan tangisannya. Hatinya berdoa agar Umar diberi petunjuk kepada kebenaran.

Ketika Umar melihat darah mengalir dari muka Sayidatina Fatimah dan suaminya, menyelinap ke dalam hatinya perasaan belas kasihan. Hatinya tiba-tiba menjadi lembut melihat adiknya menangis.

Umar berkata, ‘Tunjukkan pada aku apa yang kamu baca tadi.” Sayidatina Fatimah tidak mau memberikannya. Akhirnya Umar bersumpah, “Demi Latta dan Uzza, aku tidak akan melakukan sesuatu yang tidak baik.”

Apabila Sayidatina Fatimah melihat Umar mulai lembut, dia segera berterus-terang kepadanya, “Wahai Umar, ini Kalamullah, sedangkan kamu belum Islam. Sedangkan syirik itu najis. Kalau kamu mau membacanya juga, masuklah ke dalam dan mandi dulu.”

Karena hati Umar ketika itu sedang dicampakkan perasaan ingin sekali mendengar al-Quran, dia setuju untuk masuk ke dalam rumah adiknya lalu mandi. Selepas itu barulah Sayidatina Fatimah memberikan sohifah itu kepada Umar. Umar terus membacanya. Rupanya sohifah itu memuat ayat-ayat dari surah Thoha.

‘Taa Haaa. Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik), Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: “Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu”. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: “Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)” (Surah Thohaa: 1-13)

Selesai membaca ayat-ayat tersebut, hati Umar semakin tersentuh. Ruhnya terus diproses oleh wahyu Tuhan. Akhirnya Allah SWT telah menurunkan hidayah-Nya ke dalam hati Sayidina Umar bin Khattab bila dia membaca ayat selanjutnya:

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Surah Thohaa: 14)

Meluncur dari mulut Sayidina Umar, “Tidak sepatutnya yang empunya kata-kata ini dipersekutukan oleh penyembah-Nya. Alangkah indah dan mulianya kata-kata ini.”

Sayidina Umar meminta agar dipertemukan dengan Rasulullah saw. Selesai beliau mengucapkan perkataan itu, Sayidina Khabbab keluar dari tempat persembunyiannya sambil berkata, “Aku akan membawa kamu kepada Rasulullah saw”

Sayidina Umar bin Khattab dibawa ke rumah Sayidina Arqam bin Abil Arqam. Dia masih memakai pakaian perangnya dan lengkap dengan senjata. Sayidina Nu’aim telah memberitahu para sahabat bahwa Sayidina Umar bin Khattab mau membunuh Rasulullah saw. Semua sahabat telah bersiap sedia untuk menghadapi Sayidina Umar bin Khattab. Mereka semua belum tahu apa yang telah berlaku di rumah Sayidatina Fatimah.

Apabila Sayidina Umar mengetuk pintu, Sayidina Hamzah minta izin kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, biar aku yang membunuh dia dengan pedangku ini.” Walaupun Sayidina Umar bin Khattab seorang yang bertubuh besar dan gagah tapi dia tidak mampu menandingi Sayidina Hamzah. Beliau seorang tokoh Qurays yang tiada tandingannya.

Sayidina Hamzah berkata, “Kalau dia mau masuk, biarkan dia masuk. Dengan pedang ini aku akan bunuh dia.”

Rasulullah saw mengarahkan Sayidina Hamzah agar masuk ke dalam. Mentaati arahan seorang Rasul, Sayidina Hamzah pun masuk ke dalam. Rasulullah saw mengarahkan agar pintu dibuka. Para Sahabat yang berada di dalam berasa pelik dan semakin cemas. Umar bin Khattab datang hendak membunuh Rasulullah saw, tiba-tiba Baginda arahkan pintu dibuka sedangkan Rasulullah saw tiada pengawal.

Bagaimana pun juga, hal itu perintah Rasulullah saw. Para Sahabat tetap taat walaupun hati masing-masing sangat cemas. Apabila pintu dibuka, Sayidina Umar bin Khattab pun masuk lalu terus mendekati Rasulullah saw. Baginda yang sedang duduk, memegang ujung baju Sayidina Umar dan menggertaknya sehingga bergegar seluruh tubuhnya. Sayidina Umar terduduk di hadapan Baginda Nabi Muhammad saw. Kejadian ini membuktikan bahwa Rasulullah saw bukan hanya hati, roh dan akal Baginda yang gagah, bahkan jasad lahiriah Baginda saw juga gagah dan kuat. Tersungkurlah Sayidina Umar di hadapan Baginda.

Rasulullah lantas bertanya kepadanya, “Kapankah kamu mau menerima kebenaran, wahai Ibnul Khattab?! Apakah kamu mau menunggu sehingga kamu ditimpa musibah?!”

Ketika itu Sayidina Umar pun melafazkan:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa engkaulah Pesuruh Allah.”

Mendengar kata-kata itu, Rasulullah saw terus bertakbir: Allahuakbar! Allahuakbar!

Spontan, seluruh para sahabat yang hadir juga ikut bertakbir. Gema takbir Rasulullah saw dan para sahabat telah menggemparkan Mekah. Semua penduduk Mekah dapat merasakan suatu peristiwa besar telah berlaku. Untuk meredakan suasana, Rasulullah memerintahkan semua para sahabat segera pulang ke tempat masing-masing.

Selepas Sayidina Umar masuk Islam, dia bertanya kepada para sahabat siapakah di kalangan Kafir Qurays yang paling memusuhi Islam. Mereka berkata, “Abu Jahal!” Sayidina Umar terus pergi ke rumah Abu Jahal memberitahu bahwa dia telah memeluk Islam. Alangkah sakit hati Abu Jahal. Seorang lagi tokoh Mekah masuk Islam.

Kemudian Sayidina Umar mencari seorang yang paling tidak dapat menjaga rahasia di kalangan kuffar Qurays. Apabila beliau mengetahui orang yang dicarinya adalah Jamil bin Mu’ammir, dia segera pergi mencarinya. Akhirnya Sayidina Umar menjumpai Jamil di Kabah.

Beliau mendekati Jamil sambil berkata, “Wahai Jamil, apakah kamu tahu?”

Jamil bertanya, “Apa?”

Sayidina Umar pun menjelaskan, “Tahukah kamu bahwa aku sudah mengucapkan syahadah Islam. Aku sudah beriman dengan agama Muhammad.”

Tanpa bertanya lagi, Jamil terus bangun dan menjerit di Kabah, “Wahai pembesar Qurays, wahai pembesar Qurays, Umar bin Khattab sudah murtad dari agama kita!”

Berbondong-bondong pembesar kuffar Qurays datang kepada Sayidina Umar. Mereka bertanya, “Apakah engkau sudah murtad wahai Umar?!” Beliau menjawab, “Tidak, tetapi aku sudah Islam, aku telah mengucapkan:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad Pesuruh Allah.”

Mendengar pengakuan itu mereka semua terus menyerang Sayidina Umar. Sayidina Umar pun membalas pukulan mereka. Perlawanan itu berlaku sampai menjelang Maghrib. Karena terpaksa melawan pembesar kuffar Qurays yang banyak itu, Sayidina Umar mulai keletihan. Ketika itu beliau mencari siapa di kalangan mereka yang paling mulia dan paling besar kedudukannya di kalangan Kuffar Qurays. Sayidina Umar nampak Utbah bin Rabiah. Cepat-cepat dia menumbangkan Utbah dan terus dia naik ke atas Utbah lantas diletakkan jarinya ke mata Utbah.

Sayidina Umar mengancamnya, “Wahai Utbah jauhkan mereka semua dari aku, kalau tidak aku butakan mata engkau!”

Utbah yang tidak dapat berbuat apa-apa lagi terpaksa meminta kepada semua pembesar kuffar Qurays yang lain pergi dari situ. Dengan itu lepaslah Sayidina Umar dari Kuffar Qurays. Begitulah yang beliau lakukan selepas itu. Setiap kali Kuffar mereka mengganggunya, dia akan pegang Utbah. Akhirnya tiada siapa lagi yang berani mengganggu Sayidina Umar.

Selepas itu, Sayidina Umar sering datang ke Kabah dan membaca al-Quran dengan lantang di Kabah. Tiada seorang pun berani mengganggunya. Kalau mereka ganggu, Sayidina Umar akan tumbangkan salah seorang pemuka Kuffar Qurays dan melakukan seperti yang dia perlakukan kepada Utbah.

Seterusnya Sayidina Umar telah bertanya kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah, bukankah kita orang Islam dan bukankah mereka orang Kafir? Bukankah kita dalam kebenaran dan mereka dalam kebatilan? Kalau begitu wahai Rasulullah, kenapa kita sembunyikan Islam kita?”

Dengan usulan dari Sayidina Umar itu, Rasulullah saw telah mengumpulkan para sahabat dari kalangan bangsawan Qurays dan yang merdeka di Darul Arqam. Baginda tidak memanggil sahabat dari kalangan hamba. Apabila dikumpulkan, jumlah mereka semua sebanyak 40 orang. Rasulullah saw membariskan mereka dalam dua barisan. Masing-masing dengan senjata masing-masing. Barisan pertama diketuai oleh Sayidina Hamzah. Barisan kedua diketuai oleh Sayidina Umar. Rasulullah saw berada di antara dua barisan.

Mereka keluar dari Darul Arqam dalam satu pawai yang sangat luar biasa menuju ke Kabah sambil bertakbir:

“Tiada Tuhan melainkan Allah, Nabi Muhammad Pesuruh Allah dan Allah Yang Maha Besar!”

Penduduk Mekah hanya mampu melihat, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ke empat puluh (40) orang itu adalah dari kalangan Qurays bahkan dari keluarga bangsawan mereka. Demikianlah Allah SWT telah mengangkat izzah Islam. Bermula dengan peristiwa itu dakwah Islam telah beralih kepada ‘Era Berterus Terang.’ Benarlah, dengan Islamnya Sayidina Umar, dakwah Islam semakin besar dan semakin terang-terangan. Demikianlah Allah SWT mengazab hati Kuffar Qurays dan mengangkat agama-Nya.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi