6.2 Tekanan Terhadap Pribadi Nabi Muhammad saw

Tekanan Terhadap Pribadi Nabi Muhammad saw

Uqbah bin Abi Mu’ayyith, salah seorang pemuka Kuffar Quraisy telah mengundang Rasulullah saw makan di rumahnya. Apabila hidangan telah terhidang di hadapannya, Baginda Nabi Muhammad saw tidak mau makan. Letih Uqbah mempersilahkan Rasulullah saw makan namun Baginda tetap belum mau makan. Rasulullah saw bersabda, “Daku tidak akan makan kecuali setelah kamu mengucap dua kalimah syahadah.” Uqbah sangat terkejut mendengar permintaan Baginda itu. Rasulullah saw berharap Uqbah akan mengucap sebagaimana Sayidina Hamzah telah mengucap. Walaupun pada mulanya hanya karena semangat mau membela keponakannya, akhirnya Allah SWT campakkan Iman ke dalam hatinya. Dengan syarat itu, Uqbah tidak mampu berdalih lagi. Sebagai seorang bangsawan Quraisy, dia sepatutnya sangat memuliakan tetamu. Tidak menunaikan hajat tetamu adalah satu sikap yang sangat mengaibkan. Akhirnya dia mengucapkan dua kalimah syahadah demi agar Rasulullah saw mau menjamah hidangannya. Selepas itu, tersebarlah berita bahwa Uqbah telah mengucap dua kalimah syahadah.

Kemarahan Quraisy semakin membuak-buak. Bahkan yang paling marah ialah Ubay bin Khalaf karena Uqbah adalah kawan baiknya. Dia segera datang berjumpa Uqbah dan berkata, “Wahai Uqbah, jangan pandang muka aku lagi selepas ini! Kamu bukan kawan aku lagi sehingga kamu meludah muka Muhammad!” Uqbah benar-benar di persimpangan, di antara dua pilihan. Apakah dia mau memilih Rasulullah saw yaitu memilih kebenaran atau mau memilih pembesar Quraisy yang merupakan kawannya. Malang bagi Uqbah, akhirnya dia memilih kawan. Karena kawan, dia telah mengorbankan kebenaran. Bahkan dia telah menunaikan permintaan mereka dengan meludahi muka Rasulullah saw. Namun Baginda tetap bersabar. Begitulah kesabaran Rasulullah saw demi menyelamatkan umatnya. Perbuatan Uqbah dan Ubay bin Khalaf telah mengundang wahyu.

Firman Allah SWT:

Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang lalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul.” Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Qur’an ketika Al Qur’an itu telah datang kepadaku. Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia. (Surah al-Furqan: 27-29)

Uqbah telah mengucapkan dua kalimah syahadah. Namun Ubay bin Khalaf telah berhasil merusakkannya. Di akhirat nanti dia akan menyesal sedangkan penyesalan pada waktu itu tidak berguna lagi walaupun penyesalan air mata darah.

Ubay bin Khalaf merupakan di antara pemuka Kuffar Quraisy yang sangat memusuhi Islam. Pernah satu hari dia datang kepada Rasulullah saw membawa tulang-tulang yang sudah reput dan telah dihancurkannya hingga menjadi debu. Dia menyimbahkan debu itu ke muka Rasulullah saw sambil berkata, “Wahai Muhammad yang mengatakan Allah akan menghidupkan kami dari debu tulang ini?! Siapa yang boleh menghidupkan kita dari debu tulang ini?!”

Maka turunlah wahyu menjawab Ubay itu:

Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk. (Surah Yaa Siin: 78-79)

Bukankah Allah yang telah menghidupkan tulang ini pertama kali?! Dialah yang akan menghidupkannya semula. Inilah jawapan Allah SWT kepada Ubay yang menantang Rasulullah saw

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi