6.5 Pemboikotan Bani Abdul Mutalib

Pemboikotan Bani Abdul Mutalib

Peristiwa itu telah membuat pembesar Kuffar Quraisy menyadari betapa al-Quran sangat dapat menguasai pemikiran dan perasaan masyarakat. Bahkan mereka sendiri tidak mampu menolak kekuatan al-Quran. Mereka melarang masyarakat dari terpengaruh dengan al-Quran. Namun realitanya mereka sendiri tidak dapat menepis pengaruh al-Quran bila mendengarnya. Mereka tidak dapat menyangkal lagi bahwa al-Quran sangat berbahaya terhadap pengaruh mereka. Satu jalan penyelesaian berkesan mesti diusahakan segera.

Akhirnya mereka sepakat untuk memboikot Rasulullah saw dan orang Islam. Orang yang datang dari luar Mekah pun tidak akan dibenarkan berhubungan dengan orang Islam. Apabila Abu Talib melihat keponakannya diboikot, dia mengumpulkan Bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Hasyim.

Abu Talib bertanya kepada mereka, “Apakah kamu setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh orang Mekah kepada Muhammad?”

Ternyata mereka semua tidak setuju terhadap tindakan itu. Mereka semua sepakat untuk melanggar sekatan ini.

Abu Talib memberitahu Rasulullah, “Jangan takut wahai Muhammad, kalau mereka semua memboikot kamu, kami tidak akan memboikot kamu bahkan kami akan terus membantu kamu.”

Apabila Abu Jahal melihat Abu Talib membela Rasulullah, dia kumpulkan semua kabilah Quraisy yang lain. Dia mendesak mereka supaya memboikot Bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Hasyim dan siapa saja yang membantu Rasulullah saw. Akhirnya Abu Jahal berhasil mempengaruhi kaum Quraisy yang lain untuk memberlakukan sekatan kepada seluruh Bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Hasyim.

Perjanjian sekatan ini telah ditulis dan digantungkan di dalam Ka’bah.

Antara isi watikah ini:

Bismikallahumma,

Tidak dibenarkan sesiapa pun berjual beli dengan Bani Abdul

Mutalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Hasyim serta dengan sesiapa

juga yang beriman dengan Muhammad

Tidak dibenarkan sesiapa pun menjamu mereka.

Tidak dibenarkan sesiapa pun melakukan pernikahan dengan mereka.

Tidak dibenarkan mereka membeli makanan dari luar Mekah.

Apabila Abu Talib melihat suasana yang meruncing ini, dia mengajak semua anggota Bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Hasyim pindah ke suatu tempat di pinggir kota Mekah supaya mereka dapat hidup bersama dan bantu-membantu untuk menghadapi sekatan ini. Akhirnya tempat itu dikenali dengan nama Syiab Abu Talib atau Kampung Abu Talib.

Mereka berada dalam sekatan ini selama tiga tahun. Mereka mempunyai harta dan uang tetapi mereka tidak dibenarkan membeli makanan dari penduduk Mekah dan juga dari orang di luar Mekah. Kalau ada pedagang dari luar Mekah mau menjual kepada Bani Abdul Mutalib, Quraisy akan membayar harga yang lebih mahal berkali lipat supaya mereka menjual kepada Quraisy. Sekatan itu telah menyebabkan mereka semua menghadapi kelaparan. Demikianlah pengorbanan ahli keluarga Rasulullah saw terhadap perjuangannya.

Walaupun begitu ada juga pembesar Quraisy secara pribadi simpati kepada Abu Talib dan pengikutnya. Bagaimana tidak, mereka juga ada hubungan darah dengan Bani Abdul Mutalib, Bani Abdul Manaf dan Bani Hasyim. Salah seorang pemimpin Mekah yang simpati dan mencoba untuk membantu ialah Hakim bin Khuzam. Hakim mempunyai hubungan kerabat dari sebelah ibunya dengan Bani Abdul Mutalib.

Pada satu hari dia telah menyiapkan makanan di atas unta untuk dikirim ke Syiab Abu Talib. Ketika dia mau mengirim makanan itu dia berpapasan dengan Abu Jahal.

Abu Jahal bertanya, “Kemana kamu mau pergi, wahai Hakim?”

Hakim menjawab, “Ini urusan aku.”

Abu Jahal bertanya lagi, “Apakah kamu mau mengirim makanan kepada Muhammad dan sahabatnya?”

“Ini urusan aku,” tegas Hakim lagi.

Abu Jahal berkeras, “Tidak! ini bukan urusan kamu, kamu tidak boleh mengirimnya!” Abu Jahal menghadang perjalanan Hakim.

Ketika mereka bergelut itu, datang Abul Buhturi bin Hisyam. Dia juga salah seorang pemimpin Mekah yang bersimpati kepada Rasulullah saw. Simpatinya itu atas dasar hubungan nasab bukan atas dasar agama.

Abul Buhturi, “Ini urusan Hakim, dia berhak buat apa yang dia mau, dia juga salah seorang pemimpin Mekah!” Abul Buhturi berkata kepada Abu Jahal, “Engkau tiada hak menghalangnya!”

Abu Jahal mulai bertindak kasar, didorong Abul Buhturi, Abul Buhturi membalas dengan menampar Abu Jahal. Bergaduhlah mereka berdua di situ sehingga Abul Buhturi memenangkan pergaduhan itu. Jadi lepaslah Hakim mengirim makanan ke Syiab Abu Talib.

Selain Hakim, ada juga orang lain yang turut membantu. Tetapi makanan yang dikirim itu tidak cukup untuk semua. Sekatan ini terjadi terus menerus hingga menyebabkan orang Islam dan keluarga Rasulullah saw terpaksa makan rumput kering demi menyelamatkan nyawa.

Sehingga satu ketika, salah seorang pimpinan muda Mekah yang bernama Hisyam bin Amr yang juga simpati dengan Bani Hasyim merasakan bahwa sekatan itu adalah sesuatu yang dzalim dan memalukan kaum Quraisy. Dia mulai berpikir bagaimana caranya membatalkan sekatan itu. Akhirnya dia berhasil mengumpulkan empat orang pemimpin muda Mekah yang sependapat dengannya. Mereka adalah Hisyam bin Amr, Zuhair bin Abi Umayyah, Mut’im Ibnul Adi, Zuma’ah bin Aswad dan Abul Buhturi.

Pada satu hari yang telah disepakati, mereka berlima pergi ke Kabah dengan azam membatalkan perjanjian sekatan itu. Hisyam telah bertindak menjadi juru bicara.

Dia menyeru kepada Quraisy, “Wahai Quraisy! Kita sudah bersalah terhadap kaum kita sendiri. Sudah tiga tahun kita kucilkan mereka. Sudah tiga tahun mereka kelaparan. Demi Allah, ini adalah satu aib. Orang lain akan mengaibkan kita selama-lamanya selepas ini. Kita mesti membatalkan perjanjian ini!”

Abu Jahal terus bangun membantah karena hal ini telah disepakati bersama oleh penduduk Mekah. Sekatan mesti diteruskan sampai mereka kembali kepada agama asal mereka.

Ketika itu Zuhair bin Abu Umayyah pula bangun dan menyeru supaya sekatan itu dibatalkan. Abu Jahal bangun membantah lagi. Tetapi selepas itu Mut’im bin Adi pula bangun menyeru agar sekatan mesti dibatalkan. Abu Jahal menjerit membantah lagi. Belum sempat Abu Jahal duduk, bangun pula Abul Buhturi menyeru agar sekatan mesti dibatalkan. Abu Jahal bangun membantah lagi. Ketika itu, bangun pula Zuma’ah dari tengah orang ramai menyeru agar Quraisy membatalkan sekatan ini.

Demikianlah Abu Jahal seorang diri berkeras mempertahankan sekatan tetapi dia ditentang oleh lima orang pemuka Mekah yang lain. Mereka semua menggesa agar sekatan itu dibatalkan. Karena pergerakan lima orang ini tersusun, semua orang menyangka bahwa inilah pandangan semua pemimpin Mekah kecuali Abu Jahal. Yang sebenarnya hanya mereka berlima saja yang berpandangan begitu. Perbincangan itu berakhir bila salah seorang dari yang lima tadi masuk ke dalam Kabah untuk mengoyakkan perjanjian itu.

Mereka semua terkejut karena watikah perjanjian itu sudah dimakan rayap. Kertas itu hanya mengandung kalimah “Bismikallahumma.” Dengan itu diangkatlah sekatan dari Rasulullah saw, orang Islam, Abu Talib dan pengikutnya. Mereka semua kembali ke Mekah.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi