7.3 Kuffar Quraisy Mengirim Wakil Bertemu Najasyi

Kuffar Quraisy Mengirim Wakil Bertemu Najasyi

Selepas itu Quraisy juga berusaha untuk membawa balik para Sahabat Rasulullah saw yang hijrah ke Habsyah. Mereka mengirim Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amru bin Ash untuk berunding dengan Najasyi. Mereka membawa barang-barang yang terbuat dari kulit karena itulah hadiah yang paling disukai oleh Najasyi. Mereka juga telah menyiapkan hadiah untuk penasihat Najasyi. Sebelum mereka menghadap Najasyi, terlebih dahulu mereka memberi sogokan kepada penasihat Najasyi. Mereka membisikkan tujuan kedatangan mereka yaitu untuk membawa balik kaum mereka yang melarikan diri ke Habsyah.

Mereka berkata, “Mereka yang melarikan diri ini telah menolak agama kami dan juga menolak agama kamu. Oleh karena itu kami ingin meminta Najasyi menyerahkan kembali mereka semua kepada kami untuk dibawa pulang ke Mekah.”

Selepas itu barulah Abdullah dan Amru mengadap Najasyi lalu mempersembahkan hadiah yang dibawa kepadanya. Ini membuat Najasyi gembira menerima kunjungan mereka. Setelah itu barulah mereka menerangkan tujuan kedatangan mereka kepada Najasyi.

Najasyi berkata, “Setelah aku mendengar dari pihak kamu, aku mesti juga mendengar dari pihak mereka yaitu orang Islam.”

Najasyi memanggil semua orang Islam yang berada di Habsyah ke istananya. Mereka pun hadir dengan dipimpin oleh Sayidina Jaafar bin Abu Talib.

Najasyi bertanya kepada mereka, “Apakah cerita yang sebenarnya? Apa agama baru yang kamu bawa itu?”

Sayidina Jaafar berkata, “Dulu kami menyembah berhala, kami makan binatang yang tidak disembelih, kami melakukan maksiat, kami bersengketa sesama sendiri, kami memutuskan silaturrahim dan kami menyakiti orang lain. Selepas itu datang kepada kami seorang lelaki dari kaum kami. Dia orang yang paling mulia di kalangan kami membawa agama dari Allah, Tuhan sekalian alam. Dia mengajak kami menyembah Allah yang Maha Esa dan mengajak kami meninggalkan berhala dari batu yang tidak boleh memberi manfaat dan mudarat itu. Dia mengajak kami supaya berkasih sayang dan berakhlak mulia. Dia mengajak kami meninggalkan maksiat dan dosa.”

Sayidina Jaafar telah berjaya menerangkan Islam secara ringkas dan terang kepada Najasyi. Jelaslah padanya amalan Islam itu semuanya amalan yang mulia dan terpuji. Najasyi senang hati dan gembira mendengar penerangan dari sepupu Rasulullah saw ini.

Najasyi bertanya lagi, “Apakah ada pada kamu apa yang dibawa oleh lelaki itu?”

Sayidina Jaafar membacakan al-Quran kepada Najasyi yang menceritakan tentang Nabi Yahya as dan Nabi Zakaria as dari Surah Maryam.

Begitu Sayidina Jaafar selesai membacanya, Najasyi berkata, “Demi Allah, risalah ini dan apa yang dibawa oleh Nabi Isa adalah dari sumber yang satu.”

Najasyi sangat terkesan dengan ayat-ayat ini. Dia menyadari apa yang dibawa oleh al-Quran sama dengan apa yang ada padanya. Najasyi juga seorang ulama’ dalam agama Nasrani. Najasyi membenarkan orang Islam terus tinggal di bawah pemerintahannya di Habsyah. Najasyi memberi jaminan keselamatan kepada orang Islam, “Aku sekali-kali tidak akan menyerahkan kamu kepada musuh kamu.”

Maka Abdullah dan Amru bin Ash terpaksa meninggalkan istana Najasyi dengan tangan yang kosong dan perasaan kecewa. Namun Amru bin Ash yang terkenal dengan kecerdikan dan kelicikannya telah patah balik meminta izin untuk menghadap kembali Najasyi.

Amru berkata kepada Najasyi, “Wahai Najasyi, orang yang kamu lindungi ini menghina Nabi Isa dan mereka mengatakan perkataan terhadapnya yang kamu pasti tidak boleh menerimanya.”

Amru mencoba memberitahu Najasyi bahwa orang Islam tidak mengakui bahwa Nabi Isa itu anak Tuhan.

Najasyi bertanya, “Apakah yang mereka katakan?”

“Tuanku tanyalah mereka sendiri,” balas Amru. Najasyi mengarahkan supaya orang Islam dipanggil kembali.

Najasyi bertanya kepada, “Apa yang kamu katakan tentang Isa bin Maryam?”

Sayidina Jaafar menjawab pertanyaan Najasyi ini dengan membaca ayat al-Quran berikut:

Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: “Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa”. Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”. Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”. Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia berkata: “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”, maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?” Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali”. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (Surah al-Maryam: 16-35)

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi