Hikmah Ibadah Qurban

Amalan dan ibadah semuanya menjurus untuk mengabdi kepada Allah SWT, mengEsa dan mengAgung-kanNya. Selain itu, ibadah juga mempunyai pengertian dan tuntutan yang boleh memberi manfaat untuk kehidupan manusia.

Sholat berjamaah umpamanya, mengajar umat mengenai tata cara hidup bermasyarakat. Hidup saling bahu membahu dalam segala urusan. Hidup bermasyarakat itu pula dimonitor oleh seorang pemimpin. Rakyat wajib mematuhinya selagi dia tidak melanggar syariat.

Kesempurnaan bermasyarakat itu terbina melalui adanya hubungan antara rakyat dengan pemimpin serta jalinan antara sesama rakyat.

Ibadah puasa mendidik umat agar mengutamakan penentangan terhadap kerakusan nafsu, menguatkan dan menyuburkan jiwa dan menghaluskan jiwa serta menghaluskan perasaan. Kehalusan perasaan atau peka melahirkan manusia yang dapat dengan mudah mengesan penderitaan orang lain.

Zakat melambangkan tanggungjawab sosial golongan kaya kepada mereka yang dhaif. Turut menyadarkan manusia betapa hidup ini tidak dapat lari dari memerlukan orang lain, sandar menyandar, lengkap melengkapi baik secara langsung atau tidak.

Sekiranya dikupas dan dianalisa secara terperinci, di sebalik ibadah itu terdapat berbagai simbol, pengajaran dan iktibar. Akan nampak keindahan ajaran Islam yang merangkum segala aspek kehidupan manusia.

Ketika tiba musim haji, di akhir puncak ibadah haji itu umat Islam seluruh dunia merayakannya dengan ibadah Qurban. Darah unta, sapi, kerbau dan kambing tumpah ke bumi. Itu sebagai tanda pengorbanan umat Islam yang sudah pasti bertujuan untuk mencari keredhaan Allah SWT. Itu juga sebagai gambaran betapa perintah Allah SWT itu tidak diabaikan oleh penganutnya.

kambing 2

Domba (gambar hiasan)

Amat berat hal yang ditanggung jiwa Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s ketika diperintah melakukan penyembelihan. Beratnya tiada bandingan dengan pengorbanan penyembelihan hewan ternak. Malah penyembelihan hewan korban itu ada kesenangan yaitu dengan memakan daging korban tersebut. Sedangkan Nabi Ibrahim bakal kehilangan anak tersayang. Tentu naluri kebapaan beliau tidak sanggup berpisah dengan anaknya. Namun rasa kehambaan penyerahan kepada Allah SWT mengatasi segala-galanya.

Demikian pula dengan Nabi Ismail a.s yang bakal mengakhiri hidupnya di tangan bapanya sendiri. Namun kerelaan beliau itu lambang pengorbanan suci dari seorang hamba kepada Allah SWT.

Di saat penyembelihan hendak dilaksanakan Nabi Ismail a.s. berkata kepada ayahnya: “Wahai ayah, saya ingin sampaikan beberapa permintaan kepada ayah. Hendaklah ayah mengikat tangan saya, supaya saya tidak meronta-ronta, yang akan menyulitkan ayah; hendaklah wajah saya dihadapkan ke tanah, supaya ayah tidak melihat wajah saya yang akan menimbulkan kasih sayang ayah kepada saya; hendaklah ayah melipat kain ayah, supaya tidak berlumuran darah sedikitpun, sehingga mengurangi pahala saya dan mungkin juga akan diketahui ibu, sehingga dia menjadi susah; hendaklah ayah mengasah pisau ayah, agar memper-cepatkan jalannya atas leher saya, supaya meringankan rasa sakit, karena mati itu amat sakit; hendaklah ayah membawa baju saya kepada ibu sebagai kenang-kenangan dan katakanlah kepadanya: ‘Bersabarlah engkau terhadap perintah Allah’, janganlah diberitahu kepadanya bagaimana cara ayah menyembelih saya dan bagaimana ayah mengikat tangan saya; hendaklah ayah tidak membawa anak-anak (seusia saya) ke rumah ibu, supaya rasa sedihnya tidak timbul kembali dan kalau ayah mengetahui anak yang sebaya saya, hendaklah ayah tidak melihatnya, sehingga ayah terkenang menjadi susah dan duka’

Maka kata Nabi Ibrahim a.s: “Sebaik-baik penolong, adalah engkau hai anakku, untuk melaksanakan perintah Allah Taala.”

Dan diletakkan pisaunya pada leher puteranya, maka dia mulai menyembelihnya dengan kuat, akan tetapi dia tidak mampu melukai lehernya.

Kemudian Nabi Ismail a.s berkata: “Wahai ayahku, lepaskanlah tali tangan dan kakiku, supaya Allah Taala tidak memandang saya sebagai orang yang terpaksa.”

Maka Nabi Ibrahim pun menelentang kedua tangan Ismail dan kedua kakinya tanpa ikatan, serta memalingkan wajahnya ke arah tanah, lalu menetak pisaunya dengan sekuat tenaga. Pisau itu membalik serta tidak dapat melukai leher Ismail dengan izin Allah.

Kata Ismail a.s: “Wahai ayahku, kekuatanmu menjadi lemah, karena masih ada rasa cintamu kepadaku, sehingga ayah tidak dapat menyembelih saya.” Maka Nabi Ibrahim memukulkan pisau itu kepada batu, dan batu itu terbelah dua. Kata Ibrahim a.s: “Hai pisau, engkau mampu membelah batu, tetapi kamu tidak dapat memotong daging?”

Pisau itu berkata dengan izin Allah: “Hai Ibrahim, engkau mengatakan: ‘Potonglah!’, sedangkan Allah berfirman: ‘Jangan engkau potong’, maka bagaimana boleh saya mentaati engkau sedangkan saya harus pula mender-hakai Tuhanmu?”

Kemudian Allah berfirman:

Maksudnya: “Dan Kami (Allah) menyeru: Hai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu dan sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berbuat baik.”

Lalu Malaikat Jibril a.s datang membawa seekor gibas sebagai gantian Nabi Allah Ismail a.s.

Nilai pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail terletak kepada berat dan besarnya derita yang ditanggung.

Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat: “Maukah kamu memperoleh ganjaran 1000 dirham dari satu dirham?” Sahabat bertanya: “Bagaimana wahai Rasulullah?” Jawab Rasulullah SAW: “Yaitu satu dirham yang kamu sangat perlu yang kamu infaqkan” (Riwayat An Nasai)

Artinya bukan kecil kuantitas sesuatu tetapi beratnya perasaan yang ditanggung dalam korban itu. 5juta Rupiah bagi seorang yang kaya raya tidak akan membebani dirinya andainya dikorbankan. Dibanding orang yang hanya memiliki 50ribu Rupiah, berapapun yang dikorbankan, akan terasa.

Pengorbanan merupakan syarat penting untuk kejayaan umat. Buktinya, keagungan Islam adalah buah dari pengorbanan Rasulullah SAW dan para sahabat. Dan kita mewarisi agama Islam ini merupakan kesinambungan golongan yang merelakan diri mereka terkorban dalam memikul amanah Allah SWT.

Seperti juga dengan ibadah yang lain, maka ibadah korban juga mempunyai roh, falsafah dan iktibar tersendiri. Tidak cukup sekedar tumbangnya hewan ternak setiap tahun. Umat Islam tidak akan ke mana selain mendapat pahala dari Allah SWT hasil penyembelihan hewan korban tersebut. Lebih dari itu Islam perlu didaulatkan dan dimartabatkan keunggulannya di atas pengorbanan umat tanpa titik noktah kecuali ajal.

Kesempurnaan pengorbanan terletak pada adanya sesuatu yang terkorban dari orang yang berkorban.

Pertama: Harta benda, berlaku berkurangnya harta benda dan duit miliknya. Hingga diri dan keluarganya hidup di tahap paling sederhana. Tidak boleh mendakwa dirinya pejuang yang banyak berkorban seandainya hidup semakin mewah, semakin senang dan harta semakin bertimbun.

emasSayidina Abu Bakar As Siddiq r.a pernah ditanya ketika beliau mengorbankan semua hartanya ke jalan Allah, apa lagi yang tinggal untuknya? Beliau menjawab: “Allah dan Rasul”

Kedua: Waktu, untuk terbangunnya kejayaan umat, banyak waktu perlu digunakan. Tidak boleh ‘part time’ atau kalau ada waktu. Melainkan hilang segala waktu istirahat, waktu santai dan privacy. Terlalu sempit ruang waktu untuk urusan pribadi dan keluarga.

jam_weker_01Sayidina Umar Ibnu Khattab pernah berkata:

“Aku tidak dapat tidur di siang hari karena bimbang urusan aku dengan rakyat tidak selesai, dan aku juga tidak dapat tidur di malam hari karena bimbang kalau urusan aku dengan Tuhanku tidak selesai.

Ketiga: Tenaga, diri sendiri itulah merupakan sumber tenaga untuk dikorbankan. Tenaga yang tercurah untuk perjuangan Islam itu tidak dapat lagi digunakan untuk menambah pendapatan atau mengumpul kekayaan.

Keempat: Perasaan, terdapat umat yang mau berkorban membangunkan Islam tetapi memilih dalam bentuk yang menyenangkan, pujian dan sanjungan. Atau bentuk-bentuk yang tidak sampai menanggung derita jiwa karena menghadapi tentangan. Apa jua jenis resiko yang bakal dihadapi akan diusahakan untuk dihindari. Sedangkan sudah menjadi sunnatullah para pejuang terpaksa banyak menekan perasaan karena resiko yang dihadapi.

Kelima: Pikiran, Sayidina Umar Ibnu Khattab sangat berdukacita seandainya umat ini terdiri dari orang yang lemah mentalnya walaupun bertaqwa. Anehnya kini kepintaran dan ketinggian mental umat Islam lebih banyak digunakan untuk membangunkan material. Umat memerlukan master mind yang mampu merancang, buah pikiran yang bernas dan bersih. Kepintaran diperlukan untuk mengupas isi Al Quran dan mencapai ilmu Islam yang lainnya. Individu muslim yang pintar perlu berkorban demi kedaulatan Islam.

Keenam: Nyawa, ini yang dilakukan oleh para sahabat. Apa yang dimiliki manusia yang paling disayangi ialah nyawa. Para sahabat menukar nyawa mereka demi untuk kemuliaan Islam karena Allah SWT.

Kita tanya diri sendiri dan jawab secara jujur. Apa yang kita korbankan dalam hidup kita demi kepentingan Islam? Perlu lahir dari kalangan umat ini semangat pengorbanan seperti yang dimiliki oleh Rasulullah dan para sahabat. Perlu ada di kalangan umat ini ‘figure’ yang memiliki jiwa besar umpama Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s. Perlu ada golongan yang keluar merentasi desa, menyeberangi lautan, mendaki bukit, mengarungi onak dan duri, berkelana di rimba, terbang ke tujuh benua demi membuktikan kecintaannya kepada agama Allah SWT mengatasi kecintaan kepada yang lain.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi