Pendorong Ibadah

Ibadah kepada Allah kita perlu kita tingkatkan dari waktu ke waktu. Untuk meningkatkan ibadah kita, kita akan menghadapi banyak kendala, oleh karena itu kita perlu pendorong ibadah. Usaha-usaha memperbaiki diri melalui ibadah memang susah karena tiga faktor yaitu:

  1. Memerlukan mujahadatun nafsi yang serius.
  2. Latihan mengawal nafsu merupakan kerja yang sangat menjemukan dan meletihkan. Risikonya, susah hendak istiqamah.
  3. Banyak halangan dan rintangan yang menyekat yaitu dunia dan tarikannya serta keluarga dan sahabat yang melalaikan kita.

pendorong ibadah

Kalau begitu, apa yang patut kita buat untuk mengatasi keadaan ini? Apa pendorong untuk kita terus berjuang memperbaiki diri?

Yang patut kita buat ialah:

  1. Suluh kelemahan diri kita.
  2. Bangkitkan kesadaran jiwa.

Kedua hal ini hendaklah dibuat melalui tafakur. Antara perkara-perkara yang boleh kita tafakurkan ialah:

1. Lemahnya diri kita

Mari kita sama-sama tafakur, merenung sekejap ke dalam diri kita. Rasakan di hati kita bahwa kita ini hamba Allah yang maha dhaif, lemah dan hina. Buktinya:

  1. Bolehkah kita elak diri kita dari sakit? Kalau terkena atau tertusuk duri yang halus dapatkah kita menahan bisanya? Itupun sudah terlalu sakit, sudah tidak tertahan lagi rasanya. Itulah tanda lemahnya kita. Bolehkah kita melihat kalau jarum tercucuk di mata kita? Bolehkah kita bernafas kalau air tersumbat di hidung kita? Tentu tidak boleh. Itulah tanda lemahnya kita ini. Apatah lagi kalau Allah tarik satu saja urat saraf kita, meranalah kita seumur hidup.
  2. Bolehkah kita elak dari orang caci maki dan kata kita?
  3. Bolehkah kita menolak dari bencana alam yang melanda secara tiba-tiba pada kita? Tentu tidak boleh walaupun berkumpul seluruh tenaga makhluk yang berada di langit dan di bumi. Bencana alam tetap terjadi juga. Kita tidak mampu menahannya. Banjir yang melanda, datangnya tidak mampu dibendung. Angin taufan, ribut yang mengangkat dan menghumban, tidak mampu kita membendungnya. Gempa bumi yang dahsyat yang membunuh segala hidupan, tidak kuasa manusia menahannya. Lemahnya manusia ini.
  4. Dapatkah kita menahan kematian orang yang kita cintai? Akhirnya kita juga akan mati. Dapatkah kita menolaknya? Tentu tidak mampu. Betapa lemah dan hinanya kita. Sudah mati jadi bangkai. Tidak seorang pun yang mau jasad kita itu. Isteri tidak mau. Suami tidak mau. Anak-anak pun tidak mahu. Ibu ayah tidak mau. Kekasih pun tidak mau. Sebab itulah orang cepat-cepat hantar ke kubur karena kalau dibiarkan, busuk!

Bila dinilai bukti-bukti tadi menggambarkan betapa hinanya kita. Coba kita rasakan kehinaan dan kelemahan itu setiap saat dan kita bawa perasaan itu di mana-mana.

2. Nikmat yang kita dapat

Hitung-hitungkan juga nikmat-nikmat yang ada pada kita. Mata, hidung, mulut, telinga, kaki, tangan, akal dan lain-lain lagi yang sangat penting untuk kehidupan kita itu.

Pikirkanlah tentang akal yang dikaruniakan pada kita. Alangkah berharganya. Dengan akal itulah kita jadi cerdik, pandai dan bijaksana. Dengan akal itu juga kita membelah bumi, menerobos angkasa, menguasai lautan dan daratan. Kita bebas buat apa saja. Hatta jadi kaya-raya dan berkuasa. Renungkanlah, apakah layak akal yang begitu mahal kita gunakan hanya semata-mata untuk meruntuhkan tamadun manusia dengan berperang dan membunuh? Rasakan di hati takut pada Tuhan karena sebelumnya kita tidak gunakan akal itu untuk memikirkan kebesaran-Nya dan nikmat-nikmat pemberian-Nya yang ada pada kita.

3. Nikmat di luar diri kita

Pikirkan dan hitungkan pula nikmat-nikmat Allah yang berada di luar diri kita. Hitung berapa banyak harta, duit, rumah, kendaraan, perabot, piring, mangkuk, periuk belanga, kain baju, alas kaki, perhiasan, makanan yang kita simpan, berapa jenis lauk yang dimakan untuk satu hari, berapa banyak kenderaan kita, kebun, anak-anak, isteri-isteri, kawan-kawan, pengikut-pengikut, pembantu-pembantu, udara yang dihirup, bumi yang dipijak, cahaya matahari yang kita dapat manfaat darinya. Rasakan di hati bahwa alangkah banyaknya karunia Allah pada kita selama ini.

Kemudian pandang ke langit. Lihatlah besarnya ciptaan Tuhan itu. Tergantung tanpa tiang. Walhal rumah kita yang kecil pun ada tiangnya. Bumi yang terhampar tempat kita berpijak, sangat berguna pada kita. Saksikanlah matahari yang turun naik, yang cahayanya sangat memberi manfaat, yang menjadikan silih bergantinya siang dan malam, memberi peluang untuk kita bekerja dan rehat. Menjadikan waktu yang bermusim juga sangat berfaedah pada manusia. Air yang menguap naik, hujan yang turun, ini memberi bekalan air untuk seluruh hidupan. Memeriahkan alam dengan cahaya. Tenaga matahari serta tenaga listriknya. Rasakan ke dalam hati kita betapa pentingnya ini semua. Rasakan betapa perlunya nikmat-nikmat ini dalam kehidupan kita.

Pikirkanlah! Bolehkah manusia mencipta tanah, api dan air itu? Dapatkah kita menumbuhkan pohon? Yang kayunya kita gunakan untuk membuat rumah itu? Dapatkah kita buat segala keperluan-keperluan asas yang jadi peralatan hidup kita itu? Bolehkah hidup tanpa kita gunakan barang-barang ciptaan Allah itu? Tentu tidak. Oleh itu datangkan rasa insaf pada diri kita bahwa kita tidak mampu mengadakan itu semua.

Bila kita sadar begitu barulah kita terasa perlunya Allah itu pada kita. Barulah kita terasa, patut kita menyembah-Nya. Barulah terasa, patut kita taat perintah-Nya. Kalau begitu, bukankah patut kita patuh kepada-Nya. Bukankah patut kita jadikan Allah itu Tuhan kita. Tidaklah kita hendak bertuhankan diri kita lagi. Inilah pendorong untuk kita beribadah.

Bila kita bawa berpikir tadi barulah kita terasa Tuhan itu terlalu berjasa dan pemberi. Barulah terasa patutnya kita bersyukur pada Allah karena segala-galanya adalah ciptaan-Nya dan pemberian- Nya. Bukan kita buat sendiri. Inilah pendorong ibadah.

4. Kehidupan selepas mati

Lihatlah kepada kehebatan dunia ini. Semua yang kita miliki itu nanti akan terlucut dari kita karena dunia ini negara yang fana. Allah jadikan kita bukan untuk tinggal terus di sini buat selama-lamanya. Tetapi akan mati dan pulang ke negara asal, negara Akhirat yang kekal lagi abadi. Yakni Syurganya kekal, Nerakanya juga kekal. Nikmatnya kekal, azab siksanya pun kekal.

Coba kita rasakan nikmat Syurga yang kekal itu. Tiada bandingan dan tandingannya. Masya-Allah terlalu hebat! Patah lidah untuk mengungkapnya. Tiada bahasa yang dapat menggambarkannya. Tiada mampu mata pena untuk menulisnya. Mahligainya saja sudah seluas langit dan bumi, dibuat dari emas, permata, dinding yang berkilau-kilau cahayanya, atapnya intan berlian yang tidak terkata indahnya dan nikmat berada di dalamnya. Seorang yang bertaqwa saja memiliki berpuluh-puluh buah kota. Kalau rumahnya saja seluas langit dan bumi, agaknya berapa luas sebuah kota? Apa lagi kalau berpuluh-puluh buah kota. Tentu tidak dapat hendak dibayangkan betapa luasnya kota kepunyaan seseorang itu. Tidak dapat pena menulisnya. Tidak ada kiraan di dunia ini. Peralatan mewah dalam mahligai itu pula tidak pernah rusak. Bahkan makin dipandang, makin cantik. Semakin terasa nikmat. Sekali pandang lain cantiknya. Dua kali pandang, lain pula cantiknya. Tidak pernah jemu-jemu menikmatinya.

Kenderaan di Akhirat ialah apa saja yang kita inginkan. Teringat saja, sekelip mata datang. Teringat hendak naik pesawat terbang, niat saja langsung berada dalam kapal terbang yang diidam-idamkan. Terbanglah selaju mana yang kita mau dan ke mana saja yang kita ingin tuju, tidak pernah rasa bimbang dan cemas. Kalau naik kapal terbang dunia, hati selalu merasa takut tetapi di Akhirat, kalau ingin jatuh, ia jatuh tapi tidak sakit. Sebaliknya tetap lezat.

Rasakan pula nikmat di Akhirat itu tidak pernah lapar-lapar. Atau tidak pernah haus-haus. Senantiasa kenyang. Makanan yang kita makan tidak pernah menjemukan. Sebab rasanya berlainan. Suapan pertama dengan yang kedua, berlainan rasanya. Begitulah seterusnya. Untuk satu jenis buah, kita akan dapat berpuluh-puluh jenis rasa. Jadi tidak pernah jemu memakannya. Makin dimakan makin hendak dan semakin lezat. Demikian juga dengan jenis-jenis makanan yang lain. Makanlah sebanyak mana pun tidak akan memudaratkan. Tidak menyakitkan perut. Tidak juga susah payah untuk ke toilet. Tidak payah buang najis yang busuk itu. Tidak ada istilah tai lagi seperti tai mata dan tai telinga. Semuanya sedap-sedap, baik-baik, lezat dan indah-indah saja. Hatta peluh kita pun berbau wangi.

Rasakan pula setiap orang bertaqwa itu hadiahnya ialah bidadari-bidadari yang cantik jelita. Bukan seorang tetapi berpuluh-puluh dan beratus-ratus orang, yang nikmat dan kepuasannya tiada tolok bandingannya dengan dunia ini. Seperti firman Allah dalam Al Quran:

Maksudnya: “Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kahwinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka inginkan. Di dalam Syurga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tidak pula perbuatan dosa. Dan sekeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk melayani mereka, seakan mereka itu mutiara yang tersimpan.” (At Thur: 20 – 24)

Kemudian kita rasakan ke lubuk hati kita betapa azabnya Neraka yang kekal itu. Penderitaannya amat dahsyat dan mengerikan. Tidak dapat hendak ditulis dengan mata pena kedasyatannya itu. Api yang dahsyat itu 70 kali lipat panasnya dari panas api dunia. Api di dunia pun kita tidak dapat pegang, apa lagi api Neraka. Kita berada dalam rumah api, dinding api, atap api, lantainya api, makanannya api, minumannya api, pakaiannya api, bantalnya api dan segala-galanya dalam api. Apabila hancur daging-daging tubuh kita maka digantikan dengan daging baru, dibakar lagi hingga jadi bara dan diganti lagi.

Begitulah terus-menerus. Rasakan di hati, aduh, betapa sakitnya. Dahsyat dan ngeri. Rasakan di hati takut yang amat sangat.

Di penjara Akhirat itu, seluruh kaki tangan diikat dan disatukan. Dihumban dan tenggelam di dalam api yang ombaknya bergelombang, menggulung dan membakar. Bila tubuh kita jadi bara dan hangus, diganti dengan kulit yang baru, kemudian disiksa lagi. Di samping itu malaikat Zabaniah yang tidak pernah senyum-senyum mencemeti terus setiap detik hingga jadi hancur-lebur, berkecai.

Gambarkan betapa dahsyatnya azab yang pedih itu yang tidak akan tertanggung oleh kita. Itu baru sedikit gambaran yang dapat digambarkan. Tidak akan tertulis hal keadaan yang sebenarnya betapa rasa azab itu. Yang diceritakan itupun sudah cukup untuk menggambarkan betapa ngerinya.

Kemudian datangkan rasa takut itu terus menerus di hati kita. Di sana tidak ada yang boleh membela dan membantunya. Pangkat kita, kendaraan, pengikut-pengikut, pemimpin-pemimpin, ibu ayah, suami, isteri, anak-anak dan sahabat kita, seorang pun tidak menjenguk kita. Tidak ada sebarang makhluk pun yang akan datang menolong meringankan penderitaan yang maha dahsyat itu. Rasakanlah di hati, kita sendirian nanti menanggung kesakitan itu, yang penderitaannya puluhan kali lipat seperti yang disebutkan.

Kalau kesemua rasa-rasa yang kita gambarkan di atas tadi dapat diresapkan secara serius ke dalam hati nurani kita, langsung kita bawa hati itu ke mana-mana, itulah yang jadi motor atau power yang kuat untuk mendorong hingga kita mudah dan ringan untuk memperbaiki diri. Inilah yang dikatakan hati mukmin. Al hasil kita tidak tergamak untuk melakukan dosa-dosa kecil, apa lagi dosa besar. Kita akan rasa malu.

Hati mukmin ini walaupun fisiknya bersama dengan makhluk tetapi hatinya tetap dengan Allah. Hatinya senantiasa meneroka alam Akhirat. Hatinya senantiasa takut dengan Allah, rindu dengan Allah dan Syurga-Nya. Perasaan-perasaan inilah yang akan menyelamatkan kita di dunia dan di Akhirat. Tetapi kalau kesadaran jiwa dalam hati seseorang itu tidak ada, apakah yang akan jadi pendorong untuk mengelak dari kemungkaran? Apakah yang jadi pendorong untuk cinta Allah dan hari Akhirat? Tentu tidak ada.

Kalau perasaan ini tidak wujud di hati, apa yang akan terjadi ialah:

  1. Makin tinggi ilmu seseorang, makin alim dia, makin jahat lagi sifatnya.
  2. Bertambah kaya seseorang itu, makin dia angkuh dan sombong.
  3. Makin berkuasa seseorang itu, bertambah lagi dzalim dan kejamnya.
  4. Bolehkah kita percaya dia dapat berlaku adil, tidak suap, tidak menipu, tidak mencuri masa dan lain-lain lagi? Apakah jaminannya? Tentu tidak ada.

Oleh itu sematlah perasaan-perasaan di atas. Moga-moga ia dapat membantu kita dalam memperbaiki diri. Inilah jalan yang menyelamatkan kita yakni bila hati kita selalu sadar dan insaf. Tetapi jika sebaliknya berlaku, artinya hati dalam kelalaian, hati tidur atau hati buta. Hati kalau sudah buta, dia tidak nampak lagi jalan yang selamat untuk ke Akhirat.

 

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi