Tujuan Hidup Manusia

UNTUK apa manusia dilahirkan ke dunia ini? Di manakah manusia itu sebelum ia dilahirkan? Dan untuk apa manusia dimatikan? Persoalan ini adalah persoalan setiap orang, yang mesti dijawab dengan hati-hati dan adil. Tepat jawabannya, maka tepatlah tujuan hidup yang dipilihnya. Salah jawabannya, salah jugalah tujuan hidup yang ditujunya. Itulah pentingnya kita mengkaji dan merenungi kembali tujuan hidup manusia.

Melihat kepada kelompok-kelompok manusia yang mempunyai bermacam-macam nama dan beraneka ragam, kita dapat memperkirakan apakah tujuan dan matlamat hidup masing-masing. Yang pasti, masing-masing kelompok mempunyai tujuan yang berlainan yang ingin dicapainya. Maka lainlah cara dan pendekatan serta tindakan yang mereka lakukan untuk mencapainya. Orang-orang Yahudi, yang kini menjadi pengatur dunia, mempunyai tujuan hidup yang berbeda dengan Kristen. kelompok nasionalis ada tujuan yang tersendiri.

Dasar sosialis pun lain tujuannya. Demikianlah halnya dengan orang-orang komunis, kapitalis, sekuleris, feodalis, ateis, free thinker dan lain-lain. Masing-masing ada tujuan dan matlamat yang tersendiri. Alangkah banyaknya tujuan hidup yang direka atau diajarkan oleh manusia.

Mungkin sebanyak manusia sebanyak itulah tujuan hidupnya. Para saintis tentu ada pandangan tersendiri tentang tujuan hidup. Ahli olah raga tentu hidup untuk olah raga. Orang kebudayaan barangkali tentu hidup untuk itu. Pendek kata, terpecahnya manusia kepada bidang keahlian masing-masing telah sekaligus menentukan tujuan hidup yang berbeda diantara manusia.

Namun secara umum melihat pada sikap mereka, manusia di seluruh pelosok bumi ini menjadikan hidup mereka untuk:

  1. Makan, minum, berumahtangga, beranak-pinak dan tua, kemudian mati; itu saja. Sebab itu persoalan hidup mereka ialah bagaimana mencari duit untuk mendapatkan keperluan-keperluan tadi. halal, haram, wajib atau sunat tidak diperhitungkan lagi. Bekal untuk hidup di akhirat tidak masuk dalam perhitungan pembicaraan hidup di dunia ini. Tuhan tidak penting bagi mereka. Cuma waktu susah, barulah teringat dan minta tolong pada Tuhan. Apabila telah berhasil dan selamat, selamat tinggallah Tuhan!

Bagi umat Islam, yang menganggap hidup ialah untuk makan minum dan nikah kawin itu, upacara-upacara agama yang dilakukan lebih dirasakan sebagai tradisi atau adat daripada untuk taat pada Allah dan bekalan hidup di akhirat. Atau kalaupun memang dimaksudkan untuk Allah dan sebagai bekalan ke akhirat, tetapi hanya karena kebiasaan bukannya dari hati yang benar-benar yakin dan takut pada Allah atau cinta pada Allah SWT. Saya katakan begitu karena orang yang benar-benar beriman dan bertaqwa, hidupnya bukan hanya untuk makan, minum, nikah kawin dan kemudian mati.

  1. Sebagian manusia lagi menjadikan matlamat hidup mereka, selain untuk makan minum dan nikah kawin (sebagai keperluan asasnya), untuk dapatkan kekuasaan. Dengan kekuasaan, mereka berharap dapat menguasai dan mencorak bangsa dari kaum lain di dunia. Cita-cita, hidup dan tujuan perjuangan mereka ialah menjadi tuan pada manusia di dunia. Dengan demikian mereka akan dapat menguasai dunia, memiliki nama dan jabatan serta kekayaan seluruhnya. Lalu berjuanglah mereka untuk menjatuhkan penguasa-penguasa yang ada atau untuk menawan daerah yang belum ditawan. Apa yang mereka mau ialah kuasa dunia jatuh ke tangan mereka. Kelompok ini akan mengorbankan tenaga, harta dan jiwa raga demi mencapai tujuan mereka. Mereka juga sanggup memimpin, menzalimi, membunuh dan berperang untuk tujuan dan tujuan tadi.

Kocar-kacirnya dunia dan kehidupan manusia akibat dari sikap mereka tidak dihiraukan atau dirisaukan karena itulah juga syarat-syarat untuk sampai ke matlamat mereka. Gagal satu cara, mereka akan coba 1001 cara lagi, tanpa memperhitungkan buruk baiknya. Apabila dapat kekuasaan, mereka akan bertindak sesuka hati. Itulah yang terjadi di seluruh dunia sekarang. Perebutan kekuasaan menjadi satu budaya dunia, yang akibatnya tidak satu negara pun yang sunyi dari krisis, kerusuhan dan peperangan.

  1. Terdapat sekumpulan manusia lagi yang menjadikan tujuan hidup mereka untuk mencari kemuliaan diri. Yakni dengan menunjuk-nunjuk dan membangga-banggakan diri. Dengan kata lain, mereka ingin lebih dari orang lain. Karena dengan demikian mereka rasa mu!ia dan akan dimuliakan oleh orang. Mereka tidak mau terhina dan dihina lantaran kemiskinan dan serba kekurangan. Atas tujuan dan matlamat ini mereka bertungkus-lumus mencari kelebihan baik itu harta benda, ilmu pengetahuan, pangkat dan gaji, kecantikan atau lain-lain. Mereka menggunakan apa saja peluang yang ada hingga hasad dengki, dendam, marah, fitnah, menipu, menindas dan lain-lain tidak terkawal lagi. Hilang lenyaplah perpaduan dan kasih sayang sesama manusia. Hidup sendiri-sendiri, senantiasa dalam keadaan tegang dan hati berpecah-belah sekalipun jasad lahir berdekatan, bahkan sekalipun dalam satu partai!

Itulah tingkah laku hidup manusia hasil dari tujuan hidup yang mereka tentukan. Di dunia tidak bahagia, apa lagi di akhirat.

tujuan hidup manusia

Setiap yang hidup akan mati

tujuan hidup manusia

Apabila manusia mati akan dikubur dan kembali menjadi tanah

Tidak keterlaluan kalau saya katakan, orang yang hidup untuk makan minum dan nikah kawin, hidupnya sama seperti binatang. Coba lihat bagaimana binatang hidup. Kehidupan hewan tidak lain hanyalah untuk mencari makan, dan apabila kenyang, yang betina pun mencari jantan dan sebaliknya. Kemudian beristirahat dan bersuka-suka; apabila merasa lapar mereka akan mencari makan lagi. Begitulah sampai mati, tidak ada apa-apa yang ditinggalkan kecuali anak-anak. Peradaban binatang tidak pernah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kalau sebelumnya tidak berpakaian, sampai hari ini pun masih begitu.

Demikianlah manusia yang hidup untuk makan minum dan nikah kawin. Pada dasarnya sama saja dengan hewan-hewan itu, cuma yang berbeda ialah jenis makanan dan minuman, tempat dan tekniknya. Sebab manusia ada akal untuk memikirkan bagaimana memodernkan hidupnya. Kalau hewan ada akal yang tinggi, mereka juga bisa memodernkan cara hidup mereka tadi.

Padahal tidak sepatutnya manusia yang ada akal dan jiwa yang tinggi ini hidup setaraf dengan hewan. Sebab itu mereka marah apabila dikatakan seperti binatang, sebab memang mereka merasa tidak patut dianggap begitu. Dan memang fitrah manusia tidak dapat menerima tuduhan ini. Mereka sadar seharusnya tujuan hidup manusia mesti Iebih mulia dan lebih tinggi daripada sekadar makan minum dan nikah kawin.

Sedangkan bagi orang yang hidup untuk dapat kuasa, taraf hidupnya sama seperti binatang buas di rimba atau di padang pasir, yaitu singa dan harimau. Mentang-mentang mereka besar, kuat dan berani, mereka mau memperhambakan binatang lain. bahkan dimakan dan dibunuhnya walaupun sesama binatang. Kemudian saling berebutan dan serang-menyeramg sesamanya.

Semua penguasa di dunia yang sedang gila kekuasaan, hampir sama keadaannya Mentang-mentang kuasa di tangan, mereka bisa berbuat apa saja, perasaan dan kepentingan orang lain tidak diperhitungkan lagi. Nilai-nilai Islam tidak terfikirkan lagi. Demi kepentingan dan kepuasan sendiri, diadudombanya manusia dengan manusia, negara dengan negara atau diperangilah siapa yang tidak disukai. Benar-benar telah menjadi seperti binatang buas. Mereka akan marah apabila disebut begitu, sebab fitrah manusia memang tidak suka dikatai, dihina, sekalipun mereka sudah keterlaluan mengata-ngatai dan menghina orang lain. Baginya menghina orang lain tidak mengapa, asal jangan orang lain yang menghina dirinya.

Bagi golongan yang tujuannya ingin tampil lebih tadi, tarafnya sama dengan taraf hidup pohon kayu. Walaupun bersebelahan tapi berlomba-lomba untuk lebih dari yang lain. Masing-masing berusaha melepaskan dan meninggikan pucuknya. Baginya tidak mengapa kalau pucuknya yang tinggi itu menyebabkan pohon lain tidak dapat hidup. Itulah pola hidup individualis. Ber’uzlah’ di tengah-tengah masyarakat, atau bersendirian di tengah orang ramai. Mementingkan diri sendiri. Masing-masing menyombongkan diri sedangkan masyarakat benci dan mengecam golongan ini.

Dalam masyarakat begini tidak akan wujud perpaduan. Hati berpecah belah walaupun duduk berdekatan. Hubungan diantara mereka bukan hubungan hati, hanya hubungan fisik yang terpaksa dilakukan untuk keperluan hidup. Misalnya bos pabrik dengan bunuh-buruhnya. Masing-masing saling memerlukan tapi kasih sayang diantara mereka tidak wujud. Begitu juga murid dengan guru, pemimpin dengan rakyat. Kasih sayang tidak wujud. Yang ada ialah kepentingan yang diperoleh dari orang lain. Krisis dan pecah-belah adalah hasil akhirnya.

Demikianlah tujuan hidup manusia yang bermacam-macam, dan akibatnya pada masyarakat. Dengan tujuan itu manusia gagal menempuh sejarah kemuliaan tapi jatuh ke taraf hewan dan tumbuh-tumbuhan malah lebih hina daripada binatang ternak. Firman Allah:

Terjemahannya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi Neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan oleh mereka untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan oleh mereka untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
(Al A’raf 179)

Tujuan belum tentu dapat dicapai tapi keburukannya telah menjadi penyakit yang beraneka ragam ditengah-tengah masyarakat. Keamanan, keadilan, perpaduan dan keselamatan tidak wujud lagi. Melihat hal ini, manusia sepatutnya berfikir kembali di mana salahnya dan apa jalan keluar dari kesalahan ini.

Melihat kepada asal kejadian kita dan kesudahan hidup kelak, orang yang bijak dapat memperhitungkan hidup sebenarnya bukan di sini. Dunia merupakan laluan atau jembatan saja. Maka hidup di dunia bukanlah tujuan. Bukan di sini berakhir segala-galanya. Bukan di dunia ini kita membuat kesimpulan tentang hidup. Keputusan percobaan hidup bukan di dunia ini.

Sebenarnya ada lagi hidup sesudah hidup di dunia ini. Yakni kehidupan di tempat kita tinggal sebelum datang ke dunia ini. Ini adalah masuk akal seperti orang yang pergi merantau maka ia akan kembali ke tempat asalnya. Kita bukan berasal dari dunia ini, tetapi dari satu alam yang lain. Maka ke sanalah kita akan kembali. Itulah alam Akhirat. Firman Allah:

Terjemahannya: Dia yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian ia menetapkan ajalmu, dan ajal yang ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu bimbang (juga kepadanya). (Al An’am: 2)

Sekarang mari kita lihat ke dalam diri tentang segala yang kita miliki, yang dikurniakan oleh penciptanya. Kita mempunyai akal fikiran, nafsu dan jiwa (hati atau roh) yang bisa mencapai alam ghaib dan Alam Akhirat. Mana yang mesti kita ikuti? Akal fikiran, nafsu atau jiwa? Dan bagaimana mengatur akal fikiran dan nafsu serta roh tadi? Hal ini sangat perlu diperhitungkan untuk menentukan tujuan hidup yang sebenar-benarnya. Nafsukah yang hendak kita turuti, atau akal atau roh? Dan apa panduan yang sebaiknya untuk menentukan semua ini berjalan dengam tertib, lurus dan benar?

Manusia diciptakan Allah, Tuhan semua manusia bahkan Tuhan Rabbul ‘Alamin. Maka hanya Allah yang tahu rahasia di balik penciptaan manusia ini. Maka marilah kita lihat apa kata Allah yang tahu rahasia di balik penciptaan manusia ini.

1. Tentang nafsu,

Allah berfirman:

Terjemahannya: Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak kepada kejahatan. (Yusuf: 53)

Firman-Nya lagi:

Terjemahannya: Tidakkah engkau melihat mereka yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan? (Al Furqan: 43)

Orang yang mengambil nafsu sebagai tuhan, ialah orang yang menuruti kehendak-kehendak nafsu itu dan menjadikannya sebagai tujuan hidup. Sifat-sifat golongan ini telah kita bincangkan pada awal bab. Mereka telah mengikuti kehendak nafsu untuk hidup laksana hewan atau binatang buas atau pepohonan di hutan. Nafsu yang mereka ikuti atau yang mereka Tuhankan telah merusakkan diri mereka dan masyarakat seluruhnya. Ini membuktikan bahwa manusia tidak boleh dibiarkan mengikuti nafsu. Ada panduan lain yang sepatutnya diikuti.

2.Tentang jiwa,

Allah berfirman:

Terjemahannya: Sesungguhnya Kami telah ilhamkan pada jiwa itu dua jalan iaitu jalan kefasikan dan jalan ketaqwaan. (Asy Syam: 8)

Artinya: Manusia boleh memilih untuk berbuat fasik atau untuk bertaqwa.

Sesudah itu Allah menerangkan apa tujuan atau matlamat hidup manusia di dunia ini. Firman-Nya:

Terjemahannya: Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku. (At Zaariat: 56)

Maknanya, menurut ajaran Allah atau agama Islam, hidup ialah untuk Allah. Dan untuk memudahkan urusan itu, Allah telah memberi persediaan pada setiap orang dengan jiwa yang dapat bertaqwa dan diberinya akal untuk memikir, mengkaji, menilai dan memilih. Kemudian terpulanglah kepada masing-masing untuk memilih jalan hidup apakah menuju Allah atau menuruti nafsunya.

Kalau kita hidup untuk Allah bukan maknanya tidak boleh makan minum, nikah kawin, beranak-pinak dan mendapat kuasa serta mencari kekayaan, kemajuan dan lain-lain lagi. Boleh, cuma taraf kedudukan perkara itu bukan sebagai tujuan tapi sebagai alat. Perbedaan antara tujuan dengan alat ialah: tujuan mesti dicapai, sedangkan alat tidak mesti. Tujuan hanya satu tapi alat bukan satu.

Maknanya alat boleh dipilih atau boleh ditukar tergantung pada keperluan dan keselamatan untuk mencapai tujuan. Sedangkan bagi tujuan, tidak ada pilihan karena ia hanya satu. Orang yang hidup untuk Allah jauh beda cara hidupnya dengan orang yang hidup untuk dunia. Hasilnya pun berbeda.

Hidup untuk Allah artinya menggunakan dunia ini sebagai alat untuk menegakkan hukum Allah dan mendapatkan keredhaan Allah. Sedangkan orang yang hidup untuk dunia, sedaya upaya, baik atau buruk, hidup atau mati dia mesti mendapatkan dunia itu tanpa melihat kuasa, kekayaan atau lain-lain. Orang ini mungkin menggunakan ayat Quran untuk mendapatkan dunia. Demi untuk mendapatkan hal itu, mereka jual Quran dan hadis. Sebab itu ada ayat Al Quran artinya :

Terjemahannya: Jangan kamu jualkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. (Al Maidah: 44)

Maksudnya, jangan ditukar ayat Quran dengan kuasa, harta atau wanita cantik yang kita idamkan.

Kalau tidak dapat dunia, dia akan kecewa atau membuat masalah. Kalaupun dapat juga dia menjadi sombong; bermegah dan bimbang akan kehilangannya.

Sedangkan dengan Allah, manusia tidak perlu berebut-rebut, tidak sombong, tidak megah dan tidak takut. Alat-alat itu baik dapat atau tidak, tidak menjadi masalah. Sekiranya dapat, alat itu akan digunakan, dan kalau tidak dapat, mereka tidak putus asa dan akan mencari jalan lain. Yang penting, lakukan apa yang mampu untuk tujuan mendapat keredhaan Allah.

Alangkah indahnya hidup ini dan dunia ini sekiranya semua manusia mau menjadikan hidupnya untuk Allah. Tidak akan terjadi pertentangan lagi karena masing-masing melalui jalan yang satu, sama arahnya menuju kepada keredhaan Allah. Dalam perjalanan itu setiap orang akan berusaha mencari keperluannya yaitu apa jua mata benda dunia, untuk dikorbankan demi mencapai tujuan hidupnya. Misalnya uang, ilmu, pengalaman, jabatan, harta, negara dan lain-lain. Masing.masing akan menggunakan perkara-perkara itu sebagai alat untuk menegakkan hukum Allah di dunia ini.

Seandainya alat-alat itu bisa meruntuhkan hukum-hukum Allah, alat-alat itu tidak boleh dipakai lagi. Hendaklah dicari jalan lain yang selamat. Begitu juga jika suatu alat itu susah untuk didapatkan, maka berjuang menegakkan hukum Allah hendaklah dibuat dengan alat-alat lain yang mudah didapat. Jangan karena tidak mendapat alat, matlamat atau tujuan pun dilupakan. Masih banyak lagi alat yang lain. Misalnya kalau belum dapat negara, masih bisa menggunakan jabatan, harta benda atau ilmu untuk menegakkan hukum Allah. Jangan karena negara belum dapat, banyak hukum Allah yang lain diabaikan. Tidak dapat buat semua, jangan tinggalkan semua. Begitulah mengikut kaidah syara’.

Kalau ada harta, gunakan ia untuk infaq fi sabilillah, menolong fakir miskin, membayar zakat, naik haji atau membeli kain untuk menutup aurat. Ini pun perjuangan namanya; perjuangan menegakkan hukum Allah. Kalau ada ilmu, maka dengan ilmu itu yang pertamakali dilakukan adalah mengamalkan ilmu itu pada diri dan keluarga, supaya menjadi contoh kepada orang yang kurang berilmu. Kemudian ilmu itu diajarkan kepada masyarakat supaya mereka menjadi orang yang juga berilmu. Seterusnya diperjelas kebenaran dan ditolaklah kemungkaran agar dengan itu tertegaklah hukum-hukum yang diperintahkan dan runtuhlah hukum-hukum yang dilarang. Ilmu adalah senjata perjuangan Islam yang penting. Dengan ilmu yang banyak hukum Allah dapat ditegakkan.

Kemudian apabila ada jabatan maka gunakanlah ia untuk menegakkan keadilan, membela orang yang susah, dan membantu orang yang menegakkan kebenaran. Kemudian gunakan jabatan untuk memberi dukungan pada pejuang-pejuang Islam yang menegakkan hukum Allah. Begitu juga halnya dengan alat-alat yang lain, dapat digunakan untuk menegakkan perjuangan. Sekiranya dalam mempertahankan alat-alat ini, kita menjadi durhaka pada Allah maka alat telah menjadi tujuan.

Sebenarnya bermacam-macam alat lagi yang diperlukan, untuk setiap aspek kehidupan yang diperlukan oleh masyarakat. Lebih banyak alat, maka lebih pesatlah perjuangan menegakkan hukum Allah. Tapi sekiranya tidak ada alat-alat ini, maka jangan karena itu kita langsung tidak mau menegakkan hukum-hukum Allah yang bisa ditegakkan tanpa memerlukan alat-alat itu. apabila hal ini terjadi. tandanya kita sudah menjadikan alat ini sebagai tujuan. Contohnya, kita perlu kekuasaan dalam pemerintahan pada suatu negara sebagai alat untuk menegakkan hukum Allah. Dengan kekuasaan kita akan bebas menegakkan hukum Allah, mampu mempertahankan diri dari musuh dan menolak kejahatan pengkhianat. Tapi seandainya kita tidak dapat kekuasaan walaupun sudah berjuang berpuluh-puluh tahun untuk itu, bukan berarti kita tidak perlu memperjuangkan hukum-hukum lain (yaitu yang bisa dibuat tanpa kuasa pemerintahan negara). Sebab tujuan kita menegakkan hukum Allah, bukannya untuk mendapatkan negara. Tanpa negara pun banyak lagi hukum Allah yang bisa kita bangunkan. Bangunkan dahulu sedikit demi sedikit, moga-moga satu saat nanti Allah mengizinkan tegaknya negara Islam.

Diantara contoh-contoh lain yang menunjukkan alat menjadi tujuan ialah:

  1. Seorang yang menuntut ilmu tetapi terpaksa melanggar banyak perintah Allah seperti bergaul bebas, buka aurat dan lain-lain. Menuntut ilmu itu adalah alat, sedangkan tujuan atau matlamatnya ialah mencari keredhaan Allah. Tapi kalau bertahan menuntut ilmu sampai durhaka pada Allah, ini maknanya alat menjadi tujuan. Bukan Allah lagi tujuannya tetapi ilmu. Oleh karena itu carilah ilmu di tempat yang tidak menjurus kepada mendurhakai Allah.
  2. Dalam rumahtangga, kalau karena mengikuti kata-kata isteri kita sampai mendurhakai Allah, itu maknanya alat jadi tujuan. Allah jadi alat, isteri jadi tujuan.
  3. Bagi pemerintah, tujuannya ialah menegakkan pemerintahan Islam, negara hanya alat saja. Tapi karena kepentingan diri atau karena hendak menjaga hati rakyat, dia tidak tegakkan pemerintahan Islam maka waktu itu berdosalah dia karena telah membelakangi Allah. Allah jadi alat, pemerintahan jadi tujuan.
  4. Seorang mufti yang takut untuk memberi fatwa karena kepentingan gaji atau jabatan selain dari Allah maka jatuhlah ia kepada syirik khafi karena membelakangi Allah. Mengubah atau melanggar hukum disebabkan takut dicopot jabatan. Seharusnya utamakan perintah Allah dari kehendak-kehendak lain. Jadi, mufti tadi telah menjadikan Allah sebagai alat dan jabatannya sebagai matlamat atau tujuan hidupnya. Inilah yang banyak terjadi pada mufti-mufti di dunia.

Banyak lagi contoh-contoh lain seperti di pabrik, di kantor dan lain-lain.
Demikianlah sedikit banyak bagaimana caranya untuk menuju kepada tujuan hidup, yakni untuk mengabdikan diri kepada Allah. Umat Islam harus sadar hakikat ini dan wajib menjadikan hidupnya semata-mata untuk Allah. Kalau tidak, untuk apa kita jadi orang Islam? Sedangkan setiap kali berdiri sembahyang, menyembah Allah kita ucapkan janji dan sumpah:

Terjemahannya: Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku untuk Allah.” (Al An’am: 162)

Dan kita lafazkan juga:

Terjemahannya: Hanya pada-Mu aku mengabdikan diriku dan hanya pada-Mu juga aku memohon pertolongan.(Al Fatihah: 5)

Apabila hidup diperuntukkan pada Allah, artinya apa saja tindakan kita, tutur kata kita, fikiran kita dan hati kita, semuanya dalam rangka menegakkan hukum Allah. Dalam diri, dalam rumahtangga, dalam masyarakat, dalam ekonomi, pendidikan, pergaulan, politik, perobatan, akhlak dan dalam saja kerja semuanya mesti menurut syariat islam. Perkara yang wajib dan sunat dilaksanakan, manakala yang haram dan makruh ditinggalkan. Perkara-perkara yang mubah, terserah. Tapi sebaiknya, yang mubah juga hendaklah dijadikan ibadah.

Begitulah pengertian hidup untuk Allah. Begitulah hidup menurut pandangan Islam. Bukannya ibadah sembahyang dan puasa saja yang diwajibkan. Dalam bidang apa saja hendaklah dibuat karena Allah dan menuruti peraturannya. Bukan tutup aurat saja yang diwajibkan hukumnya. Apa saja bentuk hablumminallah dan hablumminannas, semuanya mesti dibuat menurut cara Islam. Orang yang tidak melakukan tuntutan ini semua, dianggap orang yang mengambil sebagian isi kitab dan menolak yang lainnya. Ini sangat dimurkai oleh Allah. Firman-Nya:

Terjemahannya: Apakah kamu mengambil sebagian saja isi kitab dan menolak yang selainnya? Tidaklah yang demikian itu melainkan akan hina hidup di dunia dan di akhirat akan dikembalikan pada azab yang pedih. (Al Baqarah: 85)

Tapi hal inilah yang banyak terjadi pada hari ini. bahkan pejuang-pejuang Islam yang lantang suaranya memperjuangkan Islam pun, hanya melakukan sembahyang, puasa, haji, zakat, tutup aurat dan lain-lain, tapi terus-menerus terlibat dalam pergaulan bebas, mensuksskan pendidikan sekular, membantu ekonomi riba, bermain politik kotor, menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri dan menzalimi orang-orang yang menegakkan kebenaran, menangkap orang yang baik, melindungi orang jahat, hidup dalam kesombongan, hasad dengki, bakhil, menghujat, memfitnah, mengadu domba, berfoya-foya dan macam-macam lagi budaya liar yang sangat dibenci oleh Islam. Lihat apa firman Allah dalam Al Quran:

Terjemahannya: Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. (An Naazi’at: 37-39)

Firman-Nya lagi:

Terjemahannya Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada siapa pun yang berkuasa atasnya? Dia mengatakan; “Aku telah menghabiskan harta yang banyak. ” Apakah dia menyangka tiada siapa pun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua mata, lidah dan dua bibir dan kami telah menunjukkan padanya dua jalan. Tapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? Iaitu melepaskan hamba daripada perhambaan atau memberi makan pada hari kelaparan (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat atau orang miskin yang sangat fakir. Dan (dia tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka (orang beriman dan saling berpesan) adalah golongan kanan Dan orang-orang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itulah golongan kiri. Mereka berada dalam Neraka yang ditutup rapat. (Al Balad : 5-20)

Begitulah teliti dan halusnya agama Islam. Dalam soal-soal yang kecil, apalagi yang besar, ada hukum-hukumnya yang mesti ditegakkan. Jika tidak, Allah tidak sayang untuk menghukum kita dengan api Neraka-Nya. Kalau begitu, hendaklah kita umat Islam senantiasa serius dalam hidup. Jadikan ia betul-betul untuk Allah dan bersungguh-sungguhlah melaksanakan keseluruhan ajaran-Nya. Walaupun ia memang berat bagi nafsu dan syaitan, namun itulah kejayaan yang hakiki. Allah akan hiburkan dengan Syurga. Sedangkan kalau kita gagal, di dunia pun kita susah dan terhina, di akhirat akan tersiksa selama-lamanya. Wal’iyazubillah. Ingatlah pesanan Allah:

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri pada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keuntungan.
(Al Maidah: 35)

Firman-Nya lagi :

Terjemahannya : Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesunguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(AI Maidah: 98)

tujuan hidup manusia

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya

“Orang-orang yang beriman sudah tentu akan beramal. Tetapi orang yang beramal belum tentu benar-benar beriman. Dan orang yang tidak beramal sama sekali lebih lemahlah imannya atau sama sekali tiada iman. Sebab itu Allah sering mengingatkan bahwa amalan yang akan diterima-Nya hanyalah amalan dari orang-orang yang beriman.

“Orang-orang yang beriman itu senantiasa tenang. Dia tidak susah kalau berharta, maknanya tidak takut harta itu akan habis atau hilang, tidak juga mencemaskan harta itu kaIau-kalau tidak bertambah dan tidak kecewa kalau cita-cita tidak tercapai. Orang beriman tidak juga susah kalau miskin. Dia berusaha dan berikhtiar juga untuk jadi kaya. Sebab menginginkan kekayaan itu adalah fitrah tetapi dia cukup yakin bahwa usaha dan ikhtiar tidak akan memberi bekas kalau tidak dengan izin Allah.”

“Karena itu dia bisa tenang. Tidak keluh-kesah dan memandang ringan akan ujian itu karena dia yakin segala sesuatu yang terjadi adalah pemberian Tuhan dan tidak akan ada seorang manusia malah seluruh kuasa dunia yang akan dapat mengubahnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi