Zakat dan Sedekah Untuk Meningkatkan Iman

Membayar zakat adalah rukun Islam sedangkan sedekah atau infaq merupakan anjuran agama yang sangat utama. Banyak keutamaan dan fadhilat dari menunaikan zakat dan sedekah ini. Namun, mengharapkan fadhilah bukanlah tujuan dari melaksanakan ajaran Islam ini. Beramal sekedar mengharapkan pahala maupun fadhilat tidak akan dapat mengubah akhlak menjadi baik.

Lantas, apa tujuan utama menunaikan zakat dan bersedekah?

zakat

sedekah seorang pemurah

Tujuan utama dalam melaksanakan amal ibadah yang diperintahkan Allah adalah untuk meningkatkan iman. Supaya kita sebagai hamba dapat semakin kenal dengan Allah, semakin cinta dan takut kepada Allah. Dan juga kita berharap mendapatkan rasa cinta dan rindu kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mencontohkan amalan tersebut.

Apabila kita sunggguh-sungguh berusaha dalam beramal, Insya Allah, Allah akan tunjukkan jalan-jalan menuju Allah. Seperti yang Allah Firmankan di dalam Al Quran:

Dan orang-orang yang berjihad (berjuang di jalan Allah) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesunguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik ( Al Ankabut 69)

Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy Syams: 8-10)

Penghalang Utama Menunaikan Zakat dan Sedekah

Untuk mendapatkan iman, Allah memerintahkan kita melawan nafsu. Karena nafsu yang bersarang di hati itu senantiasa mengajak kita supaya durhaka kepada Allah. FirmanNya:

Sesungguhnya nafsu (amarah) itu sangat mendorong kepada kejahatan (Yusuf : 53)

Apakah tidak engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsu menjadi Tuhan, lalu dia disesatkan Allah. (Al Jaasiyah: 23)

Apabila nafsu dibiarkan menguasai hati, iman tidak akan mempunyai tempat. Bila iman tidak ada, manusia bukan lagi menyembah Allah, Tuhan yang sebenar-benarnya, tetapi menyembah hawa nafsu. Oleh karena itu, usaha melawan hawa nafsu jangan dianggap ringan. Ia adalah satu jihad yang besar. Ingatlah sabda Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Sahabat-Sahabatnya ketika pulang dari satu medan peperangan:

Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang besar. Bila Para Sahabat bertanya, “Peperangan apakah itu?” Baginda berkata, “Peperangan melawan hawa nafsu.”
(Al Baihaqi)

Melawan hawa nafsu sangat susah. Kalau nafsu itu ada di luar jasad kita dan dapat dipegang mudah untuk kita tangkap dan kita pukul sampai mati. Tetapi nafsu kita itu ada dalam diri kita, mengalir bersama aliran darah, menguasai seluruh tubuh kita. Karena itu tanpa kesedaran dan kemauan yang sungguh-sungguh, kita pasti dikalahkan sehingga dapat diperalat semau dia.

Sifat-sifat nafsu yang jahat ini melekat di hati seperti daki melekat di badan. Kalau kita malas menggosok, akan bertambah tebal dan semakin kuat menempel. Sebaliknya kalau kita rajin meneliti dan menggosoknya maka akan bersihlah hati dan sucilah jiwa.

Bagaimana pun membuang sifat jahat dari hati tidaklah semudah membuang daki di badan. Ia memerlukan latihan jiwa yang sungguh-sungguh, didikan yang terus menerus dan panduan yang berkesan dari guru yang dapat membaca dan menyelami hati muridnya hingga ia tahu apakah kekurangan dan kelebihan muridnya tersebut.

Jelaslah pada kita bahwa penghalang utama seseorang menunaikan zakat dan bersedekah adalah nafsu jahat yang ada dalam dirinya. Nafsu jahat itu dinamakan sifat Bakhil.

Bagaimana menghilangkan sifat bakhil?

Apabila didapati ada perasaan susah untuk membayar zakat dan bersedekah, artinya ada nafsu jahat yang bersarang di dalam hati. Dalam kata lain, ada sifat bakhil dan kikir. Sifat ini bila dipelihara akan menjadikan orang tersebut susah untuk merasakan manisnya iman.

Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. (Al Hadid: 7)

Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (Al Hadid: 11)

Sebenarnya sifat bakhil bukan saja ada pada orang kaya dan berharta, tetapi orang miskin pun tidak mustahil dihinggapi penyakit bakhil ini. Oleh karena itu, sedekah itu selain dapat dilakukan dengan harta benda juga dapat dilakukan dengan cara lain. Cara-cara ini, di samping mendidik akhlak mulia bagi semua orang, juga memberi peluang pada orang miskin mengikis sifat bakhil di samping turut mendapat pahala sedekah. Allah SWT berfirman:

Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. (Al Baqarah: 263)

Baginda Nabi Muhammad SAW pernah memberikan garis-garis berikut dalam satu riwayat Hadisnya yang bermaksud:

  1. Segala perbuatan yang baik itu sedekah.
  2. Senyuman kepada saudaramu itu sedekah.
  3. Mendamaikan dua golongan yang bertengkar itu sedekah.

Dengan menggunakan panduan-panduan di atas, orang-orang yang menyadari ada sifat bakhil, dapat mencoba melatih diri untuk mengobatinya. Apabila ada peluang untuk sedekah dan sebagainya, jangan dibiarkan begitu saja. Paksalah hati untuk mengeluarkan harta atau bertindak memberi kebaikan kepada orang lain. Di waktu-waktu rasa bakhil itu terasa kuat mencengkram di hati, waktu itulah perlawanan mesti ditingkatkan. Keluarkan apa yang disayangi itu dengan segera.

Latihan ini akan jadi lebih berkesan kalau kita sanggup mengeluarkan harta itu sewaktu kita sendiri kekurangan. Katakanlah kita didatangi oleh tetangga yang meminta bantuan sedangkan uang di ATM hanya tinggal 1 juta rupiah. Waktu itu, paksa hati supaya mengeluarkan separuh dari yang ada. Tentulah berat, tetapi keluarkan juga. Insya Allah, kalau hal ini kita sanggup buat. Dan kemudian kita dapat istiqomah melaksanakannya, kita tentu akan jadi seorang yang pemurah dan rasa bakhil akan lenyap dari hati kita. Dengan demikian, iman kita kepada Allah akan semakin tebal dalam hati kita. Insya Allah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Motivasi dan Konsultasi